Jadilah yang terbaik untuk Tuhan!

Kasih Itu Lemah Lembut & Murah Hati

Kasih Itu Memaafkan & Mengampuni

Berikan yang terbaik untuk Tuhan

Bapa Mengasihimu

Jumat, 26 Juni 2009

Ibu Bijak, Anak Bahagia

Seorang filsuf Cina terkenal, Meng Zi, memiliki ibu yang sangat bijak. Konon ketika Meng Zi masih kecil, mereka tinggal dekat kuburan. Siang-malam Meng Zi meniru gerak-gerik dan perkataan orang-orang yang melayat. Maka, ibu Meng Zi mengajak keluarganya pindah ke dekat pasar. Kali ini Meng Zi menirukan kata-kata para penjual daging. Si ibu merasa lingkungan pasar juga kurang baik bagi masa depan Meng Zi. Akhirnya, mereka pindah ke dekat sekolah. Sejak itu Meng Zi rajin menirukan murid-murid membaca buku. Setelah besar Meng Zi berguru kepada seorang filsuf. Akhirnya, ia sendiri pun menjadi filsuf besar di zamannya. Meng Zi berhasil karena ia memiliki ibu yang sangat memperhatikan pendidikannya.

Alkitab mencatat jasa seorang ibu bernama Eunike. Ia adalah ibu dari pemimpin muda gereja, Timotius. Eunike dan Lois (nenek Timotius) adalah orang Yahudi yang taat mengajarkan firman Tuhan sejak Timotius kecil (1 Timotius 1:5; 2 Timotius 3:15). Menurut NIV Life Application, Timotius bertobat bukan karena khotbah seorang penginjil, tetapi karena peran ibu dan neneknya yang mengajarkan firman Tuhan sejak kecil. Ketika Timotius dipercaya memimpin jemaat, Paulus memperingatkannya tentang dunia yang makin jahat (ayat 9-15).Namun, Paulus juga menasihatinya agar selalu berpegang pada kebenaran yang diajarkan ibunya sedari kecil (ayat 15). Dengan itu, Timotius akan mampu untuk terus setia.

Dunia tidak bertambah baik. Namun, jika anak-anak sudah dididik sejak kecil dalam Tuhan, kita tak perlu khawatir. Ajak mereka rajin membaca Alkitab, berdoa, dan terutama tuntun mereka untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka --GS
MEMBAWA ANAK KEPADA KRISTUS
ADALAH KEWAJIBAN SEKALIGUS KEHORMATAN SEORANG IBU
2Timotius 3:1-15
1. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
2. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
3. tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
4. suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
5. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
6. Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,
7. yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.
8. Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.
9. Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang.
10. Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.
11. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.
12. Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,
13. sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.
14. Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
15. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Dikutip dari : WWW.Sabda.org

Rabu, 24 Juni 2009

Amanat Agung

Amanat Agung Tuhan Yesus bagi gereja-Nya adalah menjadikan semua bangsa menjadi murid Kristus! Namun sampai saat ini kita mendapati data yang cukup memprihatinkan mengenai penginjilan dunia. Tiga milyar manusia atau kira-kira setengah penduduk dunia hidup tanpa mengenal Yesus! Di Indonesia sendiri, dari populasi lebih dari 200juta orang, ternyata jumlah orang percaya juga masih sangat sedikit.Masih banyak jiwa dan suku belum terjangkau oleh Injil Kristus.

Bukankah ini berarti bahwa gereja Tuhan selama ini terlalu dininabobokan, sehingga lalai menjalankan tugas dan kewajibannya untuk menjalankan Amanat Agung? Apabila kita mengetahui kebenaran,tetapi dengan tenang membiarkan hal seperti ini terus terjadi, tentu ada yang salah dengan kekristenan kita.

Ingatlah bahwa fokus pelayanan Tuhan Yesus selama berada di dunia iniadalah menjangkau jiwa-jiwa. Lalu, jika gereja Tuhan tidak memiliki fokus untuk menjangkau jiwa, bukankah ini sangat ironis? Kenyataan yang terjadi adalah gereja Tuhan terlalu berpusat ke dalam dan berorientasi "menggemukkan" diri sendiri. Gereja Tuhan sudah cukup puas jika sudah beranggotakan ratusan atau ribuan jemaat. Ketika jemaat sudah begitu banyak, gereja merasa tugasnya menjalankan AmanatAgung sudah selesai.

Mari lihat kembali begitu banyak jiwa yang selama ini terabaikan dan tidak tersentuh oleh Injil. Apakah kita akan membiarkan mereka begitu saja? Ataukah hari ini kita mau mengambil keputusan untuk kembali mengerjakan dan melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus yang sempat kita tinggalkan? --PK

FOKUS PELAYANAN TUHAN YESUS ADALAH JIWA-JIWA
JIKA GEREJA TUHAN TIDAK FOKUS PADA HAL INI,
TENTU ADA YANG SALAH!
Matius 28:16-20
16. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
17. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
18. Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20. dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Selasa, 16 Juni 2009

Yesus Bapaku yang Baik

Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu
di INDONESIA seperti di SORGA

Apakah Kasih Itu Sesungguhnya ?

Seorang pemburu yang belum berpengalaman cenderung menembak apa saja yang bergerak. Cara semacam ini jelas membahayakan. Petunjuk pertama bagi pemburu-pemburu seperti itu ialah, "Kenalilah mangsa Anda dan jangan sekali-kali menembak ataupun membidik jikalau Anda tak yakin apakah sesuatu yang Anda lihat itu benar-benar yang hendak Anda tembak". Mengabaikan aturan yang penting ini bisa-bisa hanya akan memboroskan amunisi saja, tetapi dapat pula mengakibatkan kematian anjing pemburu yang pandai, atau lebih parah lagi, kematian seorang pemburu lain. Hasrat besar tanpa pengertian takkan membawa kebaikan.
Orang Kristen yang berhasrat mengamalkan kasih kristiani, harus mengetahui apa tujuan yang hendak dicapainya dengan pengalaman kasih. Hal ini sangat penting dewasa ini, karena begitu banyak orang yang tidak mengerti sifat kasih kristiani. Pertanyaannya bukanlah "Anda mendukung atau menolak kasih?" melainkan, "Bagaimanakah seharusnya kita memahami dan menyatakan rasa kasih?" Kita harus dapat membedakan antara konsep kristiani tentang kasih dengan konsep kebanyakan orang tentang kasih. Acapkali pendapat-pendapat ini berlainan sama sekali dan orang-orang Kristen harus mengetahui perbedaannya. Bila tidak, mungkin kita akan menaruh cinta itu di urutan paling atas pada skala prioritas kita, lalu mendapati diri kita sedang mengejar sesuatu yang sebetulnya bukan kasih kristiani sama sekali.
Misalnya, banyak di antara kita beranggapan bahwa kasih terutama adalah suatu perasaan. Kita pikir, kita mengasihi seseorang bila kita punya perasaan positif terhadapnya. Jika tanggapan emosional tak ada, mungkin kita menyimpulkan bahwa kasih juga tidak ada. Apakah pendapat serupa itu sama dengan kasih dalam ajaran Kristen? Tidak. Pendapat semacam itu bukanlah pendapat yang diajarkan dalam Alkitab. Sebagian besar ajaran Alkitab berbicara mengenai cinta dari segi yang berbeda. Banyak orang yang menyamakan cinta dengan perasaan. Namun, tidak berarti orang-orang Kristen harus menerima pandangan itu. Seringkali pikiran yang umum mengenai cinta tidak serupa dengan segi pandangan Kristen. Dewasa ini, orang Kristen dihadapkan pada tantangan untuk mengetahui apa sebenarnya kasih kristiani itu dan cinta yang bagaimana yang bukan cinta kristiani.

Di tengah-tengah kesimpang-siuran ini, Tuhan sudah memberikan firman-Nya yang dapat kita pakai sebagai pedoman. Dengan mempelajari ajaran Alkitab tentang kasih, kita dapat melihat perbedaannya dengan berbagai konsepsi yang populer di kalangan umat manusia.

KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH YANG MELAYANI

Sementara itu, sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saat-Nya telah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu (Yohanes 13:1-5).

Yohanes membuka bagian Alkitab ini dengan mengatakan bahwa Yesus "mengasihi murid-murid-Nya sampai pada kesudahannya. Kemudian sebagai contoh dari kasih Yesus, Yohanes menggambarkan suatu kejadian yang paling luar biasa. Pada masa hidup Yesus, mencuci kaki adalah tugas pelayan atau hamba yang termuda. Di sini Yesus, Guru mereka, bertindak sebagai pelayan yang hina serta melakukan perbuatan pelayanan yang kasar. Pada hakikatnya, dengan membasuh kaki murid-murid-Nya, Yesus menjelaskan cinta kasih dari segi pelayanan.

Kita harus mengingat bahwa perbuatan Yesus tadi bukanlah semata-mata suatu upacara. Kaki-kaki yang dibasuh Yesus adalah kaki yang beralaskan sandal dari orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan-jalan yang penuh sesak dan berdebu. Mungkin sekali kaki mereka amat kotor. Dan Yesus mengambil sehelai kain lenan serta sebasi air, kemudian membasuh kaki mereka.

Setelah selesai memberikan pelayanan ini, Yesus mengatakan kepada mereka, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:14,15). Kemudian, pada malam itu pula ditambahkan-Nya, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34).

Yesus melayani murid-murid-Nya dengan membasuh kaki mereka, dan dengan berbuat demikian, Ia mencintai mereka. Kasih kristiani adalah kasih yang melayani. Kasih ini meliputi bermacam-macam perbuatan, mulai dari perbuatan kita sehari-hari hingga perbuatan kepahlawanan. Tetapi maksudnya ialah bila kita melayani sesama kita, sebenarnya kita mengasihi mereka; kita mengamalkan kasih kristiani.
Beberapa tahun yang lalu punggung isteri saya tergeliat. Dokter menyarankan satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan adalah: berbaring di lantai selama tiga minggu tanpa mengerjakan apa-apa. Pengobatan ini sederhana, tetapi anak-anak kami masih amat membutuhkan pengawasan ibu mereka. Sedangkan saya sendiri tak bisa meninggalkan pekerjaan untuk tiga minggu lamanya menggantikan tugas ibu mereka.

Semula isteri saya hanya menganggap cara pengobatan seperti itu lebih buruk dari penyakitnya. Kami menelepon beberapa orang dari jemaat kami dan meminta bantuan mereka. Kami sendiri juga bagian dari anggota jemaat tersebut. Dengan sukarela mereka datang ke rumah kami untuk membantu membereskan segala kebutuhan kami, seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak-anak kami, dan lain sebagainya. Selama tiga minggu penuh kami dilayani oleh sekelompok kecil orang Kristen. Walaupun kami tak begitu akrab dengan beberapa dari mereka, ada satu hal yang saya ketahui, yakni dalam melayani keluarga kami, mereka mengamalkan kasih kristiani.

Kasih yang melayani dapat diungkapkan dengan perbuatan-perbuatan yang luar biasa, ataupun perbuatan-perbuatan kepahlawanan, namun sering kali kasih itu hanya dinyatakan dengan perbuatan sehari-hari yang biasa-biasa saja. Seperti mendengarkan masalah rekan sekerja dengan penuh perhatian, membantu tetangga memperbaiki mobilnya, menyiapkan makanan suami (tujuh hari seminggu selama dua puluh tahun). Semua ini adalah pernyataan kasih yang diberikan Yesus dengan contoh ketika Ia membasuh kaki rasul-rasul-Nya. Kasih semacam ini dijalankan dari hari ke hari tanpa gembar-gembor.

Aspek lain dari kasih yang melayani adalah fakta yang sederhana, yakni kasih itu adalah sesuatu yang kita kerjakan. Karena sering kali aspek itu amat jelas, sehingga sukar bagi kita untuk mengenalinya. Kasih yang melayani dinyatakan dengan perbuatan- perbuatan, baik yang kecil maupun perbuatan besar. Dalam arti ini, kasih yang melayani tidak hanya sekadar "bersikap manis" ataupun mempunyai watak yang positif, atau berniat baik.

Bayangkan, Anda berniat pindah rumah dan telah meminta beberapa teman untuk membantu Anda. Dengan baik hati mereka sekalian setuju membantu Anda. Tetapi ketika tiba saatnya Anda pindah, hanya seorang saja yang muncul. Sewaktu Anda menelepon teman-teman lain, mereka semua memberikan berbagai alasan. Ada yang lupa; ada yang tak bisa meninggalkan kesibukannya. Namun, mereka semua bersikeras hendak membantu, seakan-akan mengatakan, "yang patut dihargai ialah niatnya." Tentu saja dalam situasi seperti ini, niat saja tidak berguna. Saudara sedang mengharapkan bantuan, bukannya niat-niat baik.

Bila kita mengerti bahwa kasih berarti melayani sesama manusia, kita mengerti bahwa kasih kristiani haruslah diamalkan jikalau kasih itu hendak berhasil.

Sumber diambil dan diedit dari:
Judul Buku : Apakah Kasih Kristiani Itu?
Penulis : Ken Wilson
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1980
Halaman : 8 - 14
Dikutip dari: http://www.sabda.org/

Jumat, 12 Juni 2009

Diubahkan lewat Persoalan

Allah memiliki suatu tujuan di balik segala masalah.
Dia menggunakan keadaan-keadaan untuk mengembangkan karakter kita. Bahkan sebetulnya, Dia lebih bergantung pada keadaan untuk menjadikan kita serupa dengan Yesus ketimbang pada kegiatan kita membaca Alkitab. Alasannya jelas: Anda menghadapi berbagai keadaan 24 jam sehari.
Yesus memperingatkan kita bahwa kita akan menghadapi aneka masalah di dunia (Yohanes 16:33). Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap penderitaan atau terlindungi dari penderitaan, dan tidak seorang pun yang akan menjalani kehidupan ini tanpa masalah. Setiap kali Anda berhasil memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Tidak semua masalah itu besar, tetapi semuanya berperan penting dalam proses pertumbuhan yang disiapkan Allah bagi Anda. Petrus meyakinkan kita bahwa masalah-masalah itu normal, dengan mengatakan,
"Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu." (1Petrus 4:12).
Allah memakai masalah-masalah untuk menarik Anda lebih dekat kepada Diri-Nya. Alkitab mengatakan,
"Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:18).


Pengalaman-pengalaman penyembahan Anda yang paling hebat dan mendalam mungkin terjadi ketika Anda tengah mengalami masa-masa tergelap dalam hidup Anda -- ketika Anda patah hati, merasa ditinggalkan, tidak dipilih, atau ketika mengalami penderitaan badani yang luar biasa -- dan Anda datang kepada Allah sendiri. Selama dalam penderitaan itulah kita belajar untuk menaikkan doa-doa kita yang paling murni, sepenuh hati, dan jujur kepada Allah. Ketika kita berada di dalam penderitaan, kita tidak lagi memiliki tenaga untuk menaikkan doa-doa yang dangkal.
Joni Eareckson Tada menulis, "Ketika hidup terasa menyenangkan, kita mungkin menikmatinya dengan kerinduan untuk mengetahui tentang Yesus, dengan meniru Dia dan mengutip perkataan-Nya serta membicarakan-Nya. Tetapi hanya dalam penderitaanlah kita akan benar- benar mengenal Yesus." Kita mempelajari berbagai hal tentang Allah di dalam penderitaan karena hal itu tidak bisa kita pelajari dengan cara lain.

Allah tentu bisa saja mencegah agar Yusuf tidak masuk penjara (Kejadian 39:20-22), agar Daniel tidak dimasukkan dalam gua singa (Daniel 6:16-23), agar Yeremia tidak dimasukkan ke dalam perigi (Yeremia 38:6), agar Paulus tidak mengalami karam kapal tiga kali (2Korintus 11:25) dan mencegah tiga pemuda Ibrani agar tidak dibuang dalam perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:1-26) tetapi Allah tidak melakukannya. Allah mengizinkan masalah-masalah tersebut terjadi, dan sebagai hasilnya setiap orang tersebut ditarik lebih dekat kepada Allah.

Masalah-masalah mendorong kita untuk memandang kepada Allah dan bergantung pada-Nya dan bukan pada diri kita sendiri. Paulus memberikan kesaksian tentang hal ini: "Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (2Korintus 1:9).

Anda tidak akan pernah menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya yang Anda butuhkan sebelum Anda merasakan Allah sebagai satu-satunya yang Anda miliki.
Apapun penyebabnya, tidak ada satu pun masalah yang bisa terjadi tanpa izin Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas seorang anak Allah sudah disaring oleh Bapa, dan Dia bermaksud menggunakannya untuk kebaikan meskipun Iblis dan yang lain memaksudkannya untuk keburukan.
Karena Allah adalah pemegang kendali tertinggi, kecelakaan- kecelakaan hanyalah insiden-insiden dalam rencana kebaikan dari Allah bagi Anda. Karena setiap hari dari kehidupan Anda sudah tertulis pada penanggalan Allah sebelum Anda dilahirkan (Mazmur 139:16) maka "segala sesuatu" yang terjadi pada Anda memiliki manfaat rohani. Segala sesuatu! Roma 8:28-29 menjelaskan alasannya:
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya."

MENANGGAPI MASALAH-MASALAH SEPERTI YESUS MENANGGAPINYA

Masalah-masalah tidak secara otomatis menghasilkan apa yang Allah maksudkan. Banyak orang menjadi kecewa, dan bukannya menjadi lebih baik, serta menjadi tidak pernah bertumbuh. Anda harus menanggapi seperti cara Yesus menanggapi.



Dikutip dari : WWW.Sabda.org

Selasa, 09 Juni 2009

Tuhan Sumber Berkat

Carilah dahulu Kerajaan Allah { Matius 6 : 33 }
  1. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu { Matius 7 : 7 }...
  2. Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, bahwa Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu { Yesaya 45 : 3 }...
  3. Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui { Yeremia 33 : 3 }...
  4. Bagi dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja didalam kita { Efesus 3 : 20 }...
  5. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapanya pada Tuhan { Yeremia 17 : 7 }...
  6. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulyaan-nya dalam Kristus Yesus { Filipi 4 : 19 }...
  • Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan dan sesama ?
  • Seberapa jauh saudara menyerahkan hidup anda pada Tuhan ?
  • Seberapa jauh saudara mengasihi Tuhan ?
  • Seberapa jauh saudara mengandalkan Tuhan ?
  • Bagaimana kehidupan Roh anda ?
  • Bagaimana dengan Saat Teduh anda dengan Tuhan ?
  • Apa saudara orang yang Rajin mencari Tuhan ?
  • Bagaimana kehidupanmu saat ini ?

Dari beberapa pertanyaan diatas kita bisa melihat dan mengerti kenapa kita tidak hidup dalam Berkat dan tidak merasakan, tidak menikmati Kasih dan Kebaikan Tuhan...

Selasa, 02 Juni 2009

Berdoalah maka Tuhan akan menuntunmu untuk mencapai Tujuan HIdupmu !!!

Tujuan Hidup

Syalooooooom........

Saudara mari kita ingat waktu Yohanes dan Andreas barjalan mengikuti Yesus, Tuhan menoleh dan bertanya: Apakah yang kamu cari ?
ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Dan pertanyaan yang sama Dia tunjukan kepada kita semua. Dalam kenyataan setiap orang akan mempunyai jawaban yang berbeda. Lalu apa jawaban anda secara pribadi ?
Apa yang Saudara cari dalam kepentingamu dengan Yesus ?
Sebagaian akan menjawab dengan tujuan-tujuan yang tak terlalu jauh, seperti hidup sukses, melunasi utang, bahagia dsb. Ada yang mungkin ingin jadi pengusaha sukses atau hidup dalam kekayaan. Ya tiap kita memang punya hak untuk menjawab sesuai dengan yang kita ingini, tapi perlu kita ingat bahwa ini tidak hanya melibatkan keinginan Saudara. Tetapi juga ada keinginan Tuhan juga. Tuhan punya cita-cita atas hidup anak-anak-Nya. Dan betapa Dia ingin cita-citaNya itu sama dengan tujuan hidup kita.
Lalu bagaimana kalo kenyataanya berbeda ?
Yach mungkin akan seperti kehancuran hati seorang ayah yang sedang membangun pabrik mobil bagi anaknya, sementara si anak menangis dan memaksa supaya bisa jadi sopir taxi... menyedihkan.....
God Bless You all


Apa Saudara putus asa dengan Tujuan hidupmu.......?

Atau Saudara masih bingung dengan Tujuan Hidup Anda ?

Saudara masih bertanya-tanya dengan Tujuan Hidup Anda ???

Family Ministry