Coba renungkan penyampaian ini sebelum Anda mulai mengeluhkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup Anda…
01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.
02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan pasangan hidup.
06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !
a. Life is a gift
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. And fulfill it.
13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,
16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!
Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan…
Senin, 09 November 2009
KELEMAHAN YANG MENGUATKAN
Tetapi jawab Tuhan kepadaku, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus
12:9)
Suatu saat, seorang pendeta naik kapal dari Pontianak, hendak menuju
ke Semarang. Di tengah laut lepas, seorang penumpang yang diduga
stres melompat ke laut. Semua penumpang menjadi gaduh. Awak kapal
pun segera mematikan mesin, tetapi mereka tidak segera menolong.
Baru setelah orang tersebut tampak lemas tak bertenaga, para awak
menurunkan sekoci, berenang menjangkau si korban, dan mengangkatnya
ke sekoci. Mengapa orang tersebut dibiarkan lemas? Awak kapal
menjawab, "Orang yang sudah lemas pasti lebih mudah ditolong. Kalau
seseorang masih bertenaga, maka ia cenderung memberontak dan sulit
diangkat."
Paulus adalah orang hebat. Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita
membaca bahwa ia menyembuhkan orang lumpuh (14:8-10). Sapu tangannya
bisa mendatangkan mukjizat (19:12). Ia menghidupkan orang mati
(20:9,10). Ia banyak membuat mukjizat (28:9). Akan tetapi, ia
diizinkan berada dalam kondisi tidak berdaya. Ia tidak bisa menolong
dirinya sendiri. Tiga kali sudah ia berseru, tetapi Tuhan juga tidak
melepaskannya (2 Korintus 12:8).
Barangkali kita juga mengalami bahwa kepandaian, pengalaman, dan
kemampuan kita, tidak membebaskan kita dari masalah. Kita telah
berkali-kali berdoa, tetapi Allah sepertinya mengizinkan kita "lemas
tidak berdaya". Mengapa? Firman-Nya: "... justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna." Itulah yang akhirnya membuat Paulus
berani berkata: "Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas
kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Korintus
12:9) _THE
KALA KITA BENAR-BENAR SUDAH ANGKAT TANGAN
TUHAN PASTI AKAN SEGERA TURUN TANGAN
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus
12:9)
Suatu saat, seorang pendeta naik kapal dari Pontianak, hendak menuju
ke Semarang. Di tengah laut lepas, seorang penumpang yang diduga
stres melompat ke laut. Semua penumpang menjadi gaduh. Awak kapal
pun segera mematikan mesin, tetapi mereka tidak segera menolong.
Baru setelah orang tersebut tampak lemas tak bertenaga, para awak
menurunkan sekoci, berenang menjangkau si korban, dan mengangkatnya
ke sekoci. Mengapa orang tersebut dibiarkan lemas? Awak kapal
menjawab, "Orang yang sudah lemas pasti lebih mudah ditolong. Kalau
seseorang masih bertenaga, maka ia cenderung memberontak dan sulit
diangkat."
Paulus adalah orang hebat. Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita
membaca bahwa ia menyembuhkan orang lumpuh (14:8-10). Sapu tangannya
bisa mendatangkan mukjizat (19:12). Ia menghidupkan orang mati
(20:9,10). Ia banyak membuat mukjizat (28:9). Akan tetapi, ia
diizinkan berada dalam kondisi tidak berdaya. Ia tidak bisa menolong
dirinya sendiri. Tiga kali sudah ia berseru, tetapi Tuhan juga tidak
melepaskannya (2 Korintus 12:8).
Barangkali kita juga mengalami bahwa kepandaian, pengalaman, dan
kemampuan kita, tidak membebaskan kita dari masalah. Kita telah
berkali-kali berdoa, tetapi Allah sepertinya mengizinkan kita "lemas
tidak berdaya". Mengapa? Firman-Nya: "... justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna." Itulah yang akhirnya membuat Paulus
berani berkata: "Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas
kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Korintus
12:9) _THE
KALA KITA BENAR-BENAR SUDAH ANGKAT TANGAN
TUHAN PASTI AKAN SEGERA TURUN TANGAN
TIPP-EX
... supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut
keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. (1 Petrus 4:2)
Dalam dunia tulis menulis, tipp-ex bukanlah benda yang asing.
Tipp-ex membuat si penulis dapat mengoreksi kesalahan dalam
tulisannya. Dan, rasa hati jadi lebih tenang jika kita dapat
mengoreksi kesalahan yang telah terjadi. Sayangnya, kehidupan kita
tidak dilengkapi dengan "tipp-ex"!
Sebuah ungkapan mengatakan "penyesalan selalu datang terlambat". Ya,
biasanya kesadaran itu muncul saat sudah "kena batunya". Orang yang
menyesal kerap ingin memutar ulang kehidupan untuk mengoreksi
kesalahannya, atau menghapus "noda hitam" itu dari lembaran
hidupnya. Namun, hidup terus berjalan maju. Satu arah.
Jika demikian, adakah cara supaya kita tidak salah langkah? Firman
Tuhan mengingatkan pada sikap yang harus diambil dalam hidup:
pergunakan waktu yang ada sesuai kehendak Allah, jangan kehendak
diri sendiri! Dan, kehendak Allah itu dapat kita ketahui dari
firman-Nya. Inilah langkah yang benar dan bijaksana. Firman Allah
selalu menjadi pedoman dan standar kita untuk menjalankan hidup yang
berkenan kepada-Nya. Mungkin kehendak Allah terasa berat bagi kita;
bahkan tak jarang kita harus mengorbankan keinginan diri sendiri,
tetapi setialah.
Tugas apa yang Tuhan percayakan untuk Anda kerjakan hari ini?
Persoalan apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Sediakan waktu lebih
untuk menguji apakah langkah yang akan kita ambil merupakan
kehendak-Nya. Dan sesuai dengan cara yang diajarkan dalam firman-
Nya. Hidup yang merupakan anugerah Tuhan ini terlalu berharga untuk
diisi dengan segala macam pementingan diri sendiri _HA
SETIAP DETIK DALAM HIDUP INI TAK AKAN PERNAH TERULANG
LAKUKANLAH KEHENDAK ALLAH, AGAR KITA TAK MENYESAL KELAK
keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. (1 Petrus 4:2)
Dalam dunia tulis menulis, tipp-ex bukanlah benda yang asing.
Tipp-ex membuat si penulis dapat mengoreksi kesalahan dalam
tulisannya. Dan, rasa hati jadi lebih tenang jika kita dapat
mengoreksi kesalahan yang telah terjadi. Sayangnya, kehidupan kita
tidak dilengkapi dengan "tipp-ex"!
Sebuah ungkapan mengatakan "penyesalan selalu datang terlambat". Ya,
biasanya kesadaran itu muncul saat sudah "kena batunya". Orang yang
menyesal kerap ingin memutar ulang kehidupan untuk mengoreksi
kesalahannya, atau menghapus "noda hitam" itu dari lembaran
hidupnya. Namun, hidup terus berjalan maju. Satu arah.
Jika demikian, adakah cara supaya kita tidak salah langkah? Firman
Tuhan mengingatkan pada sikap yang harus diambil dalam hidup:
pergunakan waktu yang ada sesuai kehendak Allah, jangan kehendak
diri sendiri! Dan, kehendak Allah itu dapat kita ketahui dari
firman-Nya. Inilah langkah yang benar dan bijaksana. Firman Allah
selalu menjadi pedoman dan standar kita untuk menjalankan hidup yang
berkenan kepada-Nya. Mungkin kehendak Allah terasa berat bagi kita;
bahkan tak jarang kita harus mengorbankan keinginan diri sendiri,
tetapi setialah.
Tugas apa yang Tuhan percayakan untuk Anda kerjakan hari ini?
Persoalan apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Sediakan waktu lebih
untuk menguji apakah langkah yang akan kita ambil merupakan
kehendak-Nya. Dan sesuai dengan cara yang diajarkan dalam firman-
Nya. Hidup yang merupakan anugerah Tuhan ini terlalu berharga untuk
diisi dengan segala macam pementingan diri sendiri _HA
SETIAP DETIK DALAM HIDUP INI TAK AKAN PERNAH TERULANG
LAKUKANLAH KEHENDAK ALLAH, AGAR KITA TAK MENYESAL KELAK
SAYA JUGA MUNAFIK
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka
engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu
itu dari mata saudaramu. (Matius 7:5)
Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang
pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai seorang mahasiswa,
mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi
kemunafikan orang-orang kristiani. Ia merasa memperoleh ilham yang
jitu, dan menjawab, "Satu-satunya orang munafik yang perlu saya
cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri." Kathleen
mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan
memilih untuk berintrospeksi diri.
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung gampang melemparkan
kesalahan kepada pihak lain. Ia cepat melihat dan menghakimi
pelanggaran orang lain, tetapi lamur terhadap pelanggarannya
sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk
menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu.
Tuhan Yesus menghardik sikap munafik semacam itu. Dia tidak
mengajari kita untuk menutup mata terhadap pelanggaran, tetapi
mengarahkan kita untuk memulai pemeriksaan dari tempat yang benar:
dari diri kita sendiri. Kita masing-masing memiliki "balok'",
kecenderungan untuk melakukan dosa dan pelanggaran. Kita perlu
terlebih dahulu merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan untuk
mengeluarkan balok tersebut. Pandangan kita pun akan menjadi jernih,
sehingga nantinya kita bisa menuntun saudara yang lain untuk
mengeluarkan serpihan kayu dari matanya.
Hadapilah, oleh anugerah Tuhan dan ketaatan pada firman-Nya, dosa
yang mencobai Anda. Kemenangan atas dosa itu akan memampukan Anda
untuk menolong orang lain mengatasi dosa yang serupa _ARS
JANGAN MENGHAKIMI DOSA ORANG LAIN KALAU ANDA
TIDAK BERSEDIA MENOLONG ORANG ITU MENGATASI DOSANYA
Dikutip dari : www.sabda.org
engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu
itu dari mata saudaramu. (Matius 7:5)
Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang
pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai seorang mahasiswa,
mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi
kemunafikan orang-orang kristiani. Ia merasa memperoleh ilham yang
jitu, dan menjawab, "Satu-satunya orang munafik yang perlu saya
cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri." Kathleen
mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan
memilih untuk berintrospeksi diri.
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung gampang melemparkan
kesalahan kepada pihak lain. Ia cepat melihat dan menghakimi
pelanggaran orang lain, tetapi lamur terhadap pelanggarannya
sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk
menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu.
Tuhan Yesus menghardik sikap munafik semacam itu. Dia tidak
mengajari kita untuk menutup mata terhadap pelanggaran, tetapi
mengarahkan kita untuk memulai pemeriksaan dari tempat yang benar:
dari diri kita sendiri. Kita masing-masing memiliki "balok'",
kecenderungan untuk melakukan dosa dan pelanggaran. Kita perlu
terlebih dahulu merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan untuk
mengeluarkan balok tersebut. Pandangan kita pun akan menjadi jernih,
sehingga nantinya kita bisa menuntun saudara yang lain untuk
mengeluarkan serpihan kayu dari matanya.
Hadapilah, oleh anugerah Tuhan dan ketaatan pada firman-Nya, dosa
yang mencobai Anda. Kemenangan atas dosa itu akan memampukan Anda
untuk menolong orang lain mengatasi dosa yang serupa _ARS
JANGAN MENGHAKIMI DOSA ORANG LAIN KALAU ANDA
TIDAK BERSEDIA MENOLONG ORANG ITU MENGATASI DOSANYA
Dikutip dari : www.sabda.org
Jumat, 16 Oktober 2009
menyanyilah untuk Tuhan
Bagi kita yang terlibat dalam pelayanan musik atau pujian
penyembahan, marilah bersungguh-sungguh melayani Tuhan melalui
talenta yang Tuhan berikan. Sadarilah bahwa kita dapat menggunakan
musik rohani untuk menyampaikan kesaksian tentang Tuhan kepada orang
lain. Jika Iblis bisa memakai musik untuk merusak generasi muda,
kita harus melawannya dengan memakai musik yang menjangkau generasi
muda. Banyak orang bertobat dan percaya kepada Yesus setelah
mendengarkan lagu-lagu rohani. Jadi, menyanyilah untuk Tuhan . .
penyembahan, marilah bersungguh-sungguh melayani Tuhan melalui
talenta yang Tuhan berikan. Sadarilah bahwa kita dapat menggunakan
musik rohani untuk menyampaikan kesaksian tentang Tuhan kepada orang
lain. Jika Iblis bisa memakai musik untuk merusak generasi muda,
kita harus melawannya dengan memakai musik yang menjangkau generasi
muda. Banyak orang bertobat dan percaya kepada Yesus setelah
mendengarkan lagu-lagu rohani. Jadi, menyanyilah untuk Tuhan . .
ANAK HILANG
Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
Senin, 05 Oktober 2009
KELELAHAN
Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi
sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini;
sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu (Keluaran 18:17-18)
Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk
minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya
memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat
itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh
Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda
bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah
istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat
kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara
seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani
ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat.
Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti
menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro
mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya
kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian
bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi
tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap
orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk
beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah
merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi
melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi
cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta
bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri! _JTI
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini;
sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu (Keluaran 18:17-18)
Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk
minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya
memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat
itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh
Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda
bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah
istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat
kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara
seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani
ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat.
Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti
menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro
mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya
kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian
bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi
tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap
orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk
beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah
merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi
melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi
cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta
bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri! _JTI
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
CINTA ITU TERUS HIDUP
Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada
lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih
seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti
nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8:6)
Carmen Ruiz Perez dari Spanyol, jatuh cinta pada Steve Smith, ketika
mereka bertemu 16 tahun lalu dalam pertukaran pelajar di Inggris.
Setahun kemudian, mereka berpisah ketika program itu berakhir. Carmen
kembali ke Spanyol, lalu pindah ke Prancis. Beberapa tahun kemudian
Steve mengirim surat cinta untuk Carmen, ke alamat ibunya di Spanyol.
Sayang, surat itu terselip di belakang perapian lebih dari satu
dekade, dan baru ditemukan ketika rumah itu direnovasi. Akhirnya,
walau belasan tahun telah berlalu, cinta mereka bertaut kembali.
Mereka pun menikah pada Juli 2009.
Kerap kali cinta suami istri tampak menggebu di awal, tetapi luntur
seiring berlalunya waktu. Bisa karena cinta hanya untuk memuaskan
nafsu, mengangkat gengsi, mengisi hati yang sepi. Atau, cinta dianggap
barang; menarik dan enak dipakai ketika baru. Lalu bisa dibuang jika
sudah bosan, untuk diganti yang baru. Atau, ketika kelemahan pasangan
tampak, lunturlah cinta. Padahal kelemahan dan kekurangan seharusnya
menyatukan pasangan, karena timbul kebutuhan untuk saling menopang.
Salomo yang diyakini menuliskan Kidung Agung, mengungkap makna cinta
sejati. Di masa jayanya, ia kerap menerima upeti dari negara tetangga,
berupa gundik. Namun, cintanya terhadap sang istri-gadis Mesir yang
hitam manis, tetap bertahan. Cintanya kuat bagai maut. Semakin lama
semakin lekat. Bagaimana cinta kita terhadap pasangan? Adakah cinta
itu semakin kuat, khususnya saat badai menerpa? Atau, cinta itu mulai
goyah karena terkikis oleh kesibukan, kekecewaan, dan tumpukan masalah
kecil? Ambillah waktu untuk hadir bagi satu sama lain; tak hanya raga,
tetapi juga jiwa dan roh. Cabutlah duri yang merusak cinta, agar cinta
itu terus hidup _SST
PERNIKAHAN YANG BAIK TIDAK TERJADI SECARA ALAMIAH
ITU ADALAH HASIL KERJA KERAS PASANGAN MENIKAH
Dikutip dari : www.sabda.org
lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih
seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti
nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8:6)
Carmen Ruiz Perez dari Spanyol, jatuh cinta pada Steve Smith, ketika
mereka bertemu 16 tahun lalu dalam pertukaran pelajar di Inggris.
Setahun kemudian, mereka berpisah ketika program itu berakhir. Carmen
kembali ke Spanyol, lalu pindah ke Prancis. Beberapa tahun kemudian
Steve mengirim surat cinta untuk Carmen, ke alamat ibunya di Spanyol.
Sayang, surat itu terselip di belakang perapian lebih dari satu
dekade, dan baru ditemukan ketika rumah itu direnovasi. Akhirnya,
walau belasan tahun telah berlalu, cinta mereka bertaut kembali.
Mereka pun menikah pada Juli 2009.
Kerap kali cinta suami istri tampak menggebu di awal, tetapi luntur
seiring berlalunya waktu. Bisa karena cinta hanya untuk memuaskan
nafsu, mengangkat gengsi, mengisi hati yang sepi. Atau, cinta dianggap
barang; menarik dan enak dipakai ketika baru. Lalu bisa dibuang jika
sudah bosan, untuk diganti yang baru. Atau, ketika kelemahan pasangan
tampak, lunturlah cinta. Padahal kelemahan dan kekurangan seharusnya
menyatukan pasangan, karena timbul kebutuhan untuk saling menopang.
Salomo yang diyakini menuliskan Kidung Agung, mengungkap makna cinta
sejati. Di masa jayanya, ia kerap menerima upeti dari negara tetangga,
berupa gundik. Namun, cintanya terhadap sang istri-gadis Mesir yang
hitam manis, tetap bertahan. Cintanya kuat bagai maut. Semakin lama
semakin lekat. Bagaimana cinta kita terhadap pasangan? Adakah cinta
itu semakin kuat, khususnya saat badai menerpa? Atau, cinta itu mulai
goyah karena terkikis oleh kesibukan, kekecewaan, dan tumpukan masalah
kecil? Ambillah waktu untuk hadir bagi satu sama lain; tak hanya raga,
tetapi juga jiwa dan roh. Cabutlah duri yang merusak cinta, agar cinta
itu terus hidup _SST
PERNIKAHAN YANG BAIK TIDAK TERJADI SECARA ALAMIAH
ITU ADALAH HASIL KERJA KERAS PASANGAN MENIKAH
Dikutip dari : www.sabda.org
JIKA AYAH SIBUK
Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegur dia dengan
ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?" (1 Raja-raja 1:6)
Dalam adegan awal film Ip Man, Tuan Ip duduk-duduk di teras depan
bersama istri, anak, dan tiga orang tamu. Anaknya asyik menggambar.
Seorang tamu ingin menunjukkan jurus kung fu yang baru saja
dipelajarinya, dan meminta Tuan Ip meladeninya berlatih. Sementara
keduanya asyik menjajal kemampuan, anak Tuan Ip selesai menggambar dan
berlari mendekat untuk menunjukkan hasilnya pada ayahnya. Namun, sang
ayah menepiskannya, "Sebentar, Ayah sedang sibuk." Anak itu pun patah
semangat dan selama beberapa hari tidak mau menyapa ayahnya.
Orangtua kerap kali lalai memperhatikan anaknya karena sibuk dengan
pelayanan, pekerjaan, atau hobi. Kehadiran anak kadang-kadang bahkan
dirasa sebagai gangguan di tengah kesibukan lain yang dianggap lebih
penting. Daud menjadi salah satu contoh tragis dalam kasus ini. Ia
adalah raja Israel yang hebat dan orang yang sangat mengasihi Allah,
tetapi bermasalah dalam kehidupan rumah tangganya, termasuk dalam
mendidik anak-anaknya. Salah seorang anaknya, Adonia, dibiarkan
berbuat sesuka hatinya, tidak pernah ditegur atau dinasihati. Ketika
besar, Adonia membangkang pada ayahnya dengan mengangkat dirinya
sebagai raja.
Untuk mendidik dan membentuk karakter anak, diperlukan proses
pendisiplinan selama bertahun-tahun. Kita perlu meluangkan waktu dan
perhatian secara khusus, berkelanjutan, konsisten, dan penuh
kesabaran. Jangan biarkan pelayanan, pekerjaan, atau hobi menguras
waktu dan energi sampai-sampai kita tidak sempat lagi memenuhi peran
dan tanggung jawab kita sebagai orangtua _ARS
ORANG TUA YANG "TIDAK sempat" MEMPERHATIKAN ANAK
PERLU MENATA ULANG PRIORITAS HIDUPNYA
Dikutip dari : www.sabda.org
ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?" (1 Raja-raja 1:6)
Dalam adegan awal film Ip Man, Tuan Ip duduk-duduk di teras depan
bersama istri, anak, dan tiga orang tamu. Anaknya asyik menggambar.
Seorang tamu ingin menunjukkan jurus kung fu yang baru saja
dipelajarinya, dan meminta Tuan Ip meladeninya berlatih. Sementara
keduanya asyik menjajal kemampuan, anak Tuan Ip selesai menggambar dan
berlari mendekat untuk menunjukkan hasilnya pada ayahnya. Namun, sang
ayah menepiskannya, "Sebentar, Ayah sedang sibuk." Anak itu pun patah
semangat dan selama beberapa hari tidak mau menyapa ayahnya.
Orangtua kerap kali lalai memperhatikan anaknya karena sibuk dengan
pelayanan, pekerjaan, atau hobi. Kehadiran anak kadang-kadang bahkan
dirasa sebagai gangguan di tengah kesibukan lain yang dianggap lebih
penting. Daud menjadi salah satu contoh tragis dalam kasus ini. Ia
adalah raja Israel yang hebat dan orang yang sangat mengasihi Allah,
tetapi bermasalah dalam kehidupan rumah tangganya, termasuk dalam
mendidik anak-anaknya. Salah seorang anaknya, Adonia, dibiarkan
berbuat sesuka hatinya, tidak pernah ditegur atau dinasihati. Ketika
besar, Adonia membangkang pada ayahnya dengan mengangkat dirinya
sebagai raja.
Untuk mendidik dan membentuk karakter anak, diperlukan proses
pendisiplinan selama bertahun-tahun. Kita perlu meluangkan waktu dan
perhatian secara khusus, berkelanjutan, konsisten, dan penuh
kesabaran. Jangan biarkan pelayanan, pekerjaan, atau hobi menguras
waktu dan energi sampai-sampai kita tidak sempat lagi memenuhi peran
dan tanggung jawab kita sebagai orangtua _ARS
ORANG TUA YANG "TIDAK sempat" MEMPERHATIKAN ANAK
PERLU MENATA ULANG PRIORITAS HIDUPNYA
Dikutip dari : www.sabda.org
PENGHANCURAN CITRA ALLAH
Jangan membunuh (Keluaran 20:13)
Pada era Hitler, prajurit Nazi mendatangi sebuah rumah sakit di
Jerman yang dikepalai seorang dokter Lutheran. Mereka bermaksud
menghabisi pasien-pasien yang tak berdaya, agar prajurit-prajurit
yang terluka dapat dirawat. Menurut prajurit Nazi tadi, pasien-pasien
itu sudah tidak memiliki harapan untuk disembuhkan, sehingga mestinya
digantikan oleh orang-orang yang masih dapat ditolong. Sang dokter
menahan mereka di pintu gerbang rumah sakit. Ia bersikeras menolak,
"Orang-orang ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah."
Menurut Alkitab, manusia diciptakan secara berbeda dari alam dan
ciptaan lainnya. Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keserupaan manusia
dengan Allah ini mencakup kerohanian, moralitas, martabat,
kecerdasan, dan kreativitas. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam
dosa, citra Allah tetap ada padanya. Itulah sebabnya Allah secara
tegas melarang manusia membunuh sesamanya karena pembunuhan berarti
penghancuran citra Allah tersebut.
Bukan hanya dengan senjata, kita juga dapat "membunuh" seseorang
dengan perkataan dan perlakuan. Pengertian akan citra Allah dapat
menolong kita mengelakkan godaan itu. Ketika berinteraksi dengan
sesama, kita berinteraksi dengan orang yang diciptakan oleh Allah.
Seburuk apa pun orang itu, Allah juga menawarkan kehidupan kekal
kepadanya. Allah mau kita mengenali dan menghormati citra-Nya di
dalam diri setiap orang. Dengan begitu, kita mengambil bagian dalam
pelayanan yang membawa kehidupan, bukan kematian -ARS
SIKAP KITA TERHADAP SESAMA DAN DIRI SENDIRI
MENCERMINKAN SIKAP KITA TERHADAP ALLAH
Dikutip dari : www.sabda.org
Pada era Hitler, prajurit Nazi mendatangi sebuah rumah sakit di
Jerman yang dikepalai seorang dokter Lutheran. Mereka bermaksud
menghabisi pasien-pasien yang tak berdaya, agar prajurit-prajurit
yang terluka dapat dirawat. Menurut prajurit Nazi tadi, pasien-pasien
itu sudah tidak memiliki harapan untuk disembuhkan, sehingga mestinya
digantikan oleh orang-orang yang masih dapat ditolong. Sang dokter
menahan mereka di pintu gerbang rumah sakit. Ia bersikeras menolak,
"Orang-orang ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah."
Menurut Alkitab, manusia diciptakan secara berbeda dari alam dan
ciptaan lainnya. Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keserupaan manusia
dengan Allah ini mencakup kerohanian, moralitas, martabat,
kecerdasan, dan kreativitas. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam
dosa, citra Allah tetap ada padanya. Itulah sebabnya Allah secara
tegas melarang manusia membunuh sesamanya karena pembunuhan berarti
penghancuran citra Allah tersebut.
Bukan hanya dengan senjata, kita juga dapat "membunuh" seseorang
dengan perkataan dan perlakuan. Pengertian akan citra Allah dapat
menolong kita mengelakkan godaan itu. Ketika berinteraksi dengan
sesama, kita berinteraksi dengan orang yang diciptakan oleh Allah.
Seburuk apa pun orang itu, Allah juga menawarkan kehidupan kekal
kepadanya. Allah mau kita mengenali dan menghormati citra-Nya di
dalam diri setiap orang. Dengan begitu, kita mengambil bagian dalam
pelayanan yang membawa kehidupan, bukan kematian -ARS
SIKAP KITA TERHADAP SESAMA DAN DIRI SENDIRI
MENCERMINKAN SIKAP KITA TERHADAP ALLAH
Dikutip dari : www.sabda.org
Minggu, 04 Oktober 2009
MANUSIA SEPERTI RUMPUT
Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya
seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi
layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya
(Yesaya 40:6,7)
Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah
spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, "Ada
keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa
makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal
pasti mahal, ya biayanya?" Saat itu saya hanya tersenyum
mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar,
diam-diam saya terus memikirkannya.
Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang
sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program
pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai
"penampilan penunjang" lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke,
orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput
dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang
Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang
mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana
ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan,
justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin
relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.
Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun,
jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita
memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya
diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih
menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi
berarti -HA
SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA
WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL
Dikutip dari : www.sabda.org
seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi
layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya
(Yesaya 40:6,7)
Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah
spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, "Ada
keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa
makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal
pasti mahal, ya biayanya?" Saat itu saya hanya tersenyum
mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar,
diam-diam saya terus memikirkannya.
Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang
sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program
pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai
"penampilan penunjang" lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke,
orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput
dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang
Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang
mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana
ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan,
justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin
relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.
Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun,
jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita
memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya
diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih
menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi
berarti -HA
SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA
WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL
Dikutip dari : www.sabda.org
Minggu, 20 September 2009
MENARUH HORMAT
Kami minta ... supaya kamu menghormati mereka yang bekerja
keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan
menegur kamu (1Tesalonika 5:12)
Menurut H.B. London, tokoh "Focus on the Family", kehidupan para
hamba Tuhan diwarnai empat hal: kesepian, rasa terisolasi, rasa tidak
aman, dan rasa tidak mampu. Penyebabnya, mereka dituntut banyak,
tetapi dihargai terlalu sedikit. Mereka harus terlihat "tanpa dosa".
Sedikit berbuat kesalahan membuatnya jadi bahan omongan. Sebaliknya,
kerja keras dan pengorbanannya kerap dianggap biasa. Sudah lumrah.
"Miskinnya pujian dan penghargaan membuat 80% pendeta pernah berpikir
pindah dari gerejanya," ujar Jane Rubietta, penulis buku Bagaimana
Memperhatikan Pendeta yang Anda Kasihi.
Rasul Paulus mengajak jemaat Tesalonika menghormati para pemimpin
yang telah berjerih payah membimbing mereka mengenal Kristus. Para
pemimpin itu tidak selalu tampil simpatik. Kadang mereka harus
menegur jemaat yang hidup tidak tertib (ayat 12,14). Sebuah teguran
bisa menyakitkan. Membuka aib. Yang ditegur bisa terpancing untuk
balas melukai hati pemimpinnya. Paulus melarang sikap itu. Ia meminta
jemaat terus mendukung pemimpin mereka dalam kasih dan damai (ayat
13). Jemaat diminta menaruh hormat bukan karena pribadi sang
pemimpin, melainkan karena mereka melakukan pekerjaan yang Tuhan
percayakan kepadanya.
Sudahkah Anda menaruh hormat pada mereka yang telah memimpin Anda
mengenal Kristus? Mungkin mereka adalah para hamba Tuhan, sahabat
rohani, orangtua, atau pembimbing rohani Anda. Bagaimana Anda bisa
menunjukkan rasa respek dan dukungan secara nyata? Mana yang lebih
sering Anda lakukan: menghargai atau mencela mereka? -JTI
PARA HAMBA TUHAN BUKAN MANUSIA TANPA KESALAHAN
MEREKA ORANG KRISTIANI YANG TENGAH BERJUANG MELAYANI TUHAN
Dikutip dari : www.sabda.org
keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan
menegur kamu (1Tesalonika 5:12)
Menurut H.B. London, tokoh "Focus on the Family", kehidupan para
hamba Tuhan diwarnai empat hal: kesepian, rasa terisolasi, rasa tidak
aman, dan rasa tidak mampu. Penyebabnya, mereka dituntut banyak,
tetapi dihargai terlalu sedikit. Mereka harus terlihat "tanpa dosa".
Sedikit berbuat kesalahan membuatnya jadi bahan omongan. Sebaliknya,
kerja keras dan pengorbanannya kerap dianggap biasa. Sudah lumrah.
"Miskinnya pujian dan penghargaan membuat 80% pendeta pernah berpikir
pindah dari gerejanya," ujar Jane Rubietta, penulis buku Bagaimana
Memperhatikan Pendeta yang Anda Kasihi.
Rasul Paulus mengajak jemaat Tesalonika menghormati para pemimpin
yang telah berjerih payah membimbing mereka mengenal Kristus. Para
pemimpin itu tidak selalu tampil simpatik. Kadang mereka harus
menegur jemaat yang hidup tidak tertib (ayat 12,14). Sebuah teguran
bisa menyakitkan. Membuka aib. Yang ditegur bisa terpancing untuk
balas melukai hati pemimpinnya. Paulus melarang sikap itu. Ia meminta
jemaat terus mendukung pemimpin mereka dalam kasih dan damai (ayat
13). Jemaat diminta menaruh hormat bukan karena pribadi sang
pemimpin, melainkan karena mereka melakukan pekerjaan yang Tuhan
percayakan kepadanya.
Sudahkah Anda menaruh hormat pada mereka yang telah memimpin Anda
mengenal Kristus? Mungkin mereka adalah para hamba Tuhan, sahabat
rohani, orangtua, atau pembimbing rohani Anda. Bagaimana Anda bisa
menunjukkan rasa respek dan dukungan secara nyata? Mana yang lebih
sering Anda lakukan: menghargai atau mencela mereka? -JTI
PARA HAMBA TUHAN BUKAN MANUSIA TANPA KESALAHAN
MEREKA ORANG KRISTIANI YANG TENGAH BERJUANG MELAYANI TUHAN
Dikutip dari : www.sabda.org
MATA GANTI MATA
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang
berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi
kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:39)
Pak Bono, seorang guru desa, tengah berbicara kepada orang banyak.
Tiba-tiba seorang pemuda melemparkan kentang tepat mengenai
kepalanya. Orang-orang terdiam menahan napas. Pak Bono memungut
kentang itu dan beranjak pergi. Beberapa bulan kemudian, ia
mengunjungi rumah pemuda itu. Setelah mengetuk pintu, Pak Bono
menyodorkan sebuah karung sambil berkata, "Beberapa waktu lalu Anda
melemparkan kentang. Saya memungutnya dan menanamnya. Saya kemari
ingin berterima kasih dan membagi hasil panennya dengan Anda."
Bacaan Alkitab hari ini adalah bagian dari Khotbah di Bukit. Di sana
Tuhan Yesus mengutip salah satu hukum tertua di dunia: "mata ganti
mata, gigi ganti gigi". Hukum pembalasan tersebut, atau Lex Talionis,
terdapat dalam kitab hukum Hammurabi, Raja Babel pada tahun 2285-2242
SM. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sama sekali berbeda,
yaitu Anti-Lex Talionis.
Ungkapan "berilah pipi kiri kepada orang yang menampar pipi kanan"
adalah sebuah kiasan. Maknanya, Tuhan Yesus menginginkan para
pengikut-Nya menghindari sikap "mata ganti mata"; tetapi membalas
kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih, sumpah serapah
dengan berkat. Balas dendam hanya akan memicu hal-hal buruk lainnya.
Seumpama mata rantai, keburukan harus "diputus" dengan kebaikan.
Maka, baiklah kita membuang jauh-jauh niat menuntut balas kepada
orang yang menyakiti kita. Sebaliknya, tetap upayakan kebaikan
untuknya. Seperti yang dilakukan Pak Bono dalam cerita di atas. Sikap
ini jauh lebih mendatangkan berkat dan sukacita -AYA
AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA ITU TINDAKAN PENGECUT
AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU ITU TINDAKAN KRISTIANI
Dikutip dari : sabda.org
berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi
kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:39)
Pak Bono, seorang guru desa, tengah berbicara kepada orang banyak.
Tiba-tiba seorang pemuda melemparkan kentang tepat mengenai
kepalanya. Orang-orang terdiam menahan napas. Pak Bono memungut
kentang itu dan beranjak pergi. Beberapa bulan kemudian, ia
mengunjungi rumah pemuda itu. Setelah mengetuk pintu, Pak Bono
menyodorkan sebuah karung sambil berkata, "Beberapa waktu lalu Anda
melemparkan kentang. Saya memungutnya dan menanamnya. Saya kemari
ingin berterima kasih dan membagi hasil panennya dengan Anda."
Bacaan Alkitab hari ini adalah bagian dari Khotbah di Bukit. Di sana
Tuhan Yesus mengutip salah satu hukum tertua di dunia: "mata ganti
mata, gigi ganti gigi". Hukum pembalasan tersebut, atau Lex Talionis,
terdapat dalam kitab hukum Hammurabi, Raja Babel pada tahun 2285-2242
SM. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sama sekali berbeda,
yaitu Anti-Lex Talionis.
Ungkapan "berilah pipi kiri kepada orang yang menampar pipi kanan"
adalah sebuah kiasan. Maknanya, Tuhan Yesus menginginkan para
pengikut-Nya menghindari sikap "mata ganti mata"; tetapi membalas
kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih, sumpah serapah
dengan berkat. Balas dendam hanya akan memicu hal-hal buruk lainnya.
Seumpama mata rantai, keburukan harus "diputus" dengan kebaikan.
Maka, baiklah kita membuang jauh-jauh niat menuntut balas kepada
orang yang menyakiti kita. Sebaliknya, tetap upayakan kebaikan
untuknya. Seperti yang dilakukan Pak Bono dalam cerita di atas. Sikap
ini jauh lebih mendatangkan berkat dan sukacita -AYA
AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA ITU TINDAKAN PENGECUT
AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU ITU TINDAKAN KRISTIANI
Dikutip dari : sabda.org
BELAJAR UNTUK PERCAYA
Tetapi Aku bersukacita, Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab
demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya. Marilah
kita pergi sekarang kepadanya (Yohanes 11:15)
Mungkin kita kerap bertanya, jika Tuhan mengasihi saya, mengapa Dia
mengizinkan hal yang buruk terjadi? Hal ini juga pernah saya
pertanyakan ketika dokter mengatakan mama sakit kanker stadium tiga.
Kaki saya terasa lemas dan pikiran saya begitu kacau. Padahal saya
sudah berdoa puasa beberapa bulan untuk kesembuhan mama. Padahal baru
saja papa dan mama menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat
beberapa hari yang lalu. Namun, mengapa kenyataan ini harus kami
hadapi? Sungguhkah Yesus mengasihi kami?
Alkitab mencatat bahwa Yesus mengasihi Lazarus (ayat 3). Namun,
mengapa ketika Tuhan Yesus mendengar bahwa Lazarus sedang sakit, Dia
tidak segera datang ke Betania untuk menyembuhkannya? Sebaliknya,
Tuhan Yesus justru menunda kedatangannya dan membiarkan Lazarus mati.
Apakah Yesus sungguh-sungguh mengasihi Lazarus, Maria, dan Marta? Ya,
Tuhan sangat mengasihi mereka, tetapi Tuhan juga punya maksud dan
rencana yang kerap kali tidak kita mengerti, sehingga membiarkan
semua itu terjadi.
Terkadang Tuhan membiarkan kita masuk ke dalam lembah kekelaman.
Terkadang juga Tuhan membiarkan "seolah-olah" kita ditinggal
sendirian. Namun, pada saat-saat seperti itulah sesungguhnya iman
kita sedang diuji. Tuhan membiarkan kita mengalami masa-masa gelap
dengan satu tujuan, yaitu agar kita belajar untuk percaya (ayat 15).
Saat masa-masa gelap itu datang, maukah kita belajar percaya bahwa
Tuhan tetap berdaulat dan mempunyai rencana indah di balik semua
masalah yang sedang kita hadapi? -VT
DISAAT KITA TIDAK MENGERTI MENGAPA SEMUA HARUS TERJADI
MARILAH KITA BELAJAR UNTUK TETAP PERCAYA PADA KEBAIKAN HATI TUHAN
Dikutip dari : sabda.org
demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya. Marilah
kita pergi sekarang kepadanya (Yohanes 11:15)
Mungkin kita kerap bertanya, jika Tuhan mengasihi saya, mengapa Dia
mengizinkan hal yang buruk terjadi? Hal ini juga pernah saya
pertanyakan ketika dokter mengatakan mama sakit kanker stadium tiga.
Kaki saya terasa lemas dan pikiran saya begitu kacau. Padahal saya
sudah berdoa puasa beberapa bulan untuk kesembuhan mama. Padahal baru
saja papa dan mama menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat
beberapa hari yang lalu. Namun, mengapa kenyataan ini harus kami
hadapi? Sungguhkah Yesus mengasihi kami?
Alkitab mencatat bahwa Yesus mengasihi Lazarus (ayat 3). Namun,
mengapa ketika Tuhan Yesus mendengar bahwa Lazarus sedang sakit, Dia
tidak segera datang ke Betania untuk menyembuhkannya? Sebaliknya,
Tuhan Yesus justru menunda kedatangannya dan membiarkan Lazarus mati.
Apakah Yesus sungguh-sungguh mengasihi Lazarus, Maria, dan Marta? Ya,
Tuhan sangat mengasihi mereka, tetapi Tuhan juga punya maksud dan
rencana yang kerap kali tidak kita mengerti, sehingga membiarkan
semua itu terjadi.
Terkadang Tuhan membiarkan kita masuk ke dalam lembah kekelaman.
Terkadang juga Tuhan membiarkan "seolah-olah" kita ditinggal
sendirian. Namun, pada saat-saat seperti itulah sesungguhnya iman
kita sedang diuji. Tuhan membiarkan kita mengalami masa-masa gelap
dengan satu tujuan, yaitu agar kita belajar untuk percaya (ayat 15).
Saat masa-masa gelap itu datang, maukah kita belajar percaya bahwa
Tuhan tetap berdaulat dan mempunyai rencana indah di balik semua
masalah yang sedang kita hadapi? -VT
DISAAT KITA TIDAK MENGERTI MENGAPA SEMUA HARUS TERJADI
MARILAH KITA BELAJAR UNTUK TETAP PERCAYA PADA KEBAIKAN HATI TUHAN
Dikutip dari : sabda.org
MELANGKAH DARI MASA LALU
Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada
zaman sekarang?" (Pengkhotbah 7:10)
Kehidupan kita seperti roda yang selalu berputar; selalu maju. Masa
lalu tidak dapat diulang lagi. Namun begitu, kita kerap membandingkan
keadaan yang terjadi di setiap masa. Misalnya, seingat saya, pada
1990-an, harga gula pasir sekitar Rp900,00/kg. Kini, harganya hampir
sepuluh kali lipat! Maka, tidak heran jika ada orang yang berharap
untuk kembali ke masa lalu, ketika harga lebih murah, pemikiran lebih
sederhana, dan tuntutan hidup yang memicu stres tidak setinggi saat
ini.
Pengalaman ingin kembali ke masa lalu juga pernah dialami bangsa
Israel ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Di depan mereka
terhampar Laut Teberau. Di belakang mereka pasukan Mesir mengejar.
Dalam situasi itu, orang Israel berkata kepada Musa, "Lebih baik bagi
kami untuk bekerja pada orang Mesir daripada mati di padang gurun
ini" (ayat 12). Mereka ingin kembali, padahal Tuhan membebaskan
mereka untuk mengalami hal yang lebih indah di depan! Perjalanan
keluar dari Mesir juga dipakai Tuhan untuk menuntun Israel selangkah
lebih dekat pada penggenapan rencana-Nya: masuk tanah perjanjian.
Namun, orang Israel sudah terbuai kenyamanan di Mesir sebagai budak.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga berpikir seperti bangsa
Israel yang memilih tinggal di masa lalu karena "nyaman"? Tuhan
menuntun Israel keluar dari Mesir untuk mengajarkan hal baru yang
berharga. Demikian juga Dia menuntun kita melangkah maju setiap hari,
untuk mengalami kuasa-Nya yang luar biasa. Jangan kecut dan tawar
hati, sebab walau tantangan hidup bertambah, penyataan kuasa Tuhan
juga semakin bertambah. Maka, nikmatilah hidup yang Tuhan hadirkan
setiap hari. Dan majulah bersama Tuhan! -HA
MASA LALU DIBERIKAN TUHAN MENJADI PELAJARAN BERHARGA
BUKAN SEBAGAI BAYANG-BAYANG MENYESAKKAN BAGI HIDUP MASA KINI
Dikutip dari : www.sabda.org
zaman sekarang?" (Pengkhotbah 7:10)
Kehidupan kita seperti roda yang selalu berputar; selalu maju. Masa
lalu tidak dapat diulang lagi. Namun begitu, kita kerap membandingkan
keadaan yang terjadi di setiap masa. Misalnya, seingat saya, pada
1990-an, harga gula pasir sekitar Rp900,00/kg. Kini, harganya hampir
sepuluh kali lipat! Maka, tidak heran jika ada orang yang berharap
untuk kembali ke masa lalu, ketika harga lebih murah, pemikiran lebih
sederhana, dan tuntutan hidup yang memicu stres tidak setinggi saat
ini.
Pengalaman ingin kembali ke masa lalu juga pernah dialami bangsa
Israel ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Di depan mereka
terhampar Laut Teberau. Di belakang mereka pasukan Mesir mengejar.
Dalam situasi itu, orang Israel berkata kepada Musa, "Lebih baik bagi
kami untuk bekerja pada orang Mesir daripada mati di padang gurun
ini" (ayat 12). Mereka ingin kembali, padahal Tuhan membebaskan
mereka untuk mengalami hal yang lebih indah di depan! Perjalanan
keluar dari Mesir juga dipakai Tuhan untuk menuntun Israel selangkah
lebih dekat pada penggenapan rencana-Nya: masuk tanah perjanjian.
Namun, orang Israel sudah terbuai kenyamanan di Mesir sebagai budak.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga berpikir seperti bangsa
Israel yang memilih tinggal di masa lalu karena "nyaman"? Tuhan
menuntun Israel keluar dari Mesir untuk mengajarkan hal baru yang
berharga. Demikian juga Dia menuntun kita melangkah maju setiap hari,
untuk mengalami kuasa-Nya yang luar biasa. Jangan kecut dan tawar
hati, sebab walau tantangan hidup bertambah, penyataan kuasa Tuhan
juga semakin bertambah. Maka, nikmatilah hidup yang Tuhan hadirkan
setiap hari. Dan majulah bersama Tuhan! -HA
MASA LALU DIBERIKAN TUHAN MENJADI PELAJARAN BERHARGA
BUKAN SEBAGAI BAYANG-BAYANG MENYESAKKAN BAGI HIDUP MASA KINI
Dikutip dari : www.sabda.org
BERPAKAIAN YANG PANTAS
Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika
Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?
(Maleakhi 1:6)
Pak Tirta diundang Pak Bupati berkunjung ke rumahnya. Tentu saja ia
sangat antusias. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri;
mencukur rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia
tidak mau berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati
menganggap ia tidak menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan
berkunjung ke rumah seseorang yang kita hormati, kita akan berusaha
tampil "prima", tidak asal-asalan.
Alangkah baiknya kalau "prinsip" demikian diberlakukan juga ketika
kita beribadah di gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian
baru, tetapi setidaknya berusahalah tampil baik. Minimal rapih dan
bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang datang ke gereja dengan
berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke
pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian.
Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya
merupakan cerminan yang ada di dalam hati.
Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi Maleakhi. Mereka telah
mempersembahkan korban secara sembarangan dan asal-asalan (ayat 7,8).
Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari
persembahan itu. Namun, ternyata tindakan mereka mengundang murka
Tuhan, sebab mereka telah menunjukkan sikap tidak hormat dan
menghargai Tuhan, Sang Raja di atas segala raja (ayat 14). Hal ini
bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan datang ke rumah
Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas dan
sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus -AYA
PENAMPILAN YANG PANTAS TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL
CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN
Dikutip dari : www.sabda.org
Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?
(Maleakhi 1:6)
Pak Tirta diundang Pak Bupati berkunjung ke rumahnya. Tentu saja ia
sangat antusias. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri;
mencukur rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia
tidak mau berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati
menganggap ia tidak menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan
berkunjung ke rumah seseorang yang kita hormati, kita akan berusaha
tampil "prima", tidak asal-asalan.
Alangkah baiknya kalau "prinsip" demikian diberlakukan juga ketika
kita beribadah di gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian
baru, tetapi setidaknya berusahalah tampil baik. Minimal rapih dan
bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang datang ke gereja dengan
berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke
pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian.
Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya
merupakan cerminan yang ada di dalam hati.
Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi Maleakhi. Mereka telah
mempersembahkan korban secara sembarangan dan asal-asalan (ayat 7,8).
Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari
persembahan itu. Namun, ternyata tindakan mereka mengundang murka
Tuhan, sebab mereka telah menunjukkan sikap tidak hormat dan
menghargai Tuhan, Sang Raja di atas segala raja (ayat 14). Hal ini
bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan datang ke rumah
Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas dan
sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus -AYA
PENAMPILAN YANG PANTAS TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL
CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN
Dikutip dari : www.sabda.org
PENERIMAAN
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan
pendapatnya (Roma 14:1)
Mirna dan Jack hidup dalam obat bius, pesta-pora, dan kumpul kebo.
Mirna mengira orangtua Jack pasti sangat membencinya. Ia keliru. Pada
malam Natal, mereka berdua diundang makan bersama keluarga Jack.
Mirna memakai kostum ala penyanyi rock dengan tato di tangan, tetapi
orangtua Jack tetap bersikap ramah. Ibu Jack sering menelepon sesudah
itu. Memberinya nasihat rohani. Mulanya Mirna mencibir. Suatu hari
kecanduannya makin parah. Mirna merasa sangat ketakutan, lalu
menelepon si ibu. Orangtua Jack datang bersama pendeta, mendoakan dan
memeluknya. Ia terharu sekali karena merasa diterima. Sejak itu Mirna
dan Jack menerima Kristus.
Dalam pergaulan sehari-hari, kerap kita jumpai orang yang imannya
lemah. Ada yang masih percaya takhayul, gaya hidupnya duniawi, atau
terikat dosa tertentu. Banyak pula yang belum beriman, bahkan mencela
Kristus. Bagaimana sikap kita? Menghakimi dan menjauhi mereka? Rasul
Paulus menantang kita untuk menerima mereka apa adanya (ayat 7),
sebagaimana Kristus telah menerima kita. Menerima bukan berarti
menyetujui perbuatan dosanya, melainkan "menanggung kelemahannya"
(ayat 15). Artinya, berusaha menanggung rasa tidak nyaman ketika
menghadapi kelemahannya, sambil berdoa dan berusaha membangun
imannya.
Menerima orang seperti Mirna tidaklah mudah. Lebih gampang
meninggalkan orang bermasalah seperti dia, lalu bergaul dengan kawan
seiman yang lebih menyenangkan. Di sini dibutuhkan penyangkalan diri,
kesabaran, dan kerendahan hati. Namun, percayalah: penerimaan Anda
akan menyentuh hidup mereka! -JTI
SEBUAH PENERIMAAN YANG TULUS
MEMBUAT JALAN MENUJU TUHAN MENJADI MULUS
Dikutip dari : www.sabda.org
pendapatnya (Roma 14:1)
Mirna dan Jack hidup dalam obat bius, pesta-pora, dan kumpul kebo.
Mirna mengira orangtua Jack pasti sangat membencinya. Ia keliru. Pada
malam Natal, mereka berdua diundang makan bersama keluarga Jack.
Mirna memakai kostum ala penyanyi rock dengan tato di tangan, tetapi
orangtua Jack tetap bersikap ramah. Ibu Jack sering menelepon sesudah
itu. Memberinya nasihat rohani. Mulanya Mirna mencibir. Suatu hari
kecanduannya makin parah. Mirna merasa sangat ketakutan, lalu
menelepon si ibu. Orangtua Jack datang bersama pendeta, mendoakan dan
memeluknya. Ia terharu sekali karena merasa diterima. Sejak itu Mirna
dan Jack menerima Kristus.
Dalam pergaulan sehari-hari, kerap kita jumpai orang yang imannya
lemah. Ada yang masih percaya takhayul, gaya hidupnya duniawi, atau
terikat dosa tertentu. Banyak pula yang belum beriman, bahkan mencela
Kristus. Bagaimana sikap kita? Menghakimi dan menjauhi mereka? Rasul
Paulus menantang kita untuk menerima mereka apa adanya (ayat 7),
sebagaimana Kristus telah menerima kita. Menerima bukan berarti
menyetujui perbuatan dosanya, melainkan "menanggung kelemahannya"
(ayat 15). Artinya, berusaha menanggung rasa tidak nyaman ketika
menghadapi kelemahannya, sambil berdoa dan berusaha membangun
imannya.
Menerima orang seperti Mirna tidaklah mudah. Lebih gampang
meninggalkan orang bermasalah seperti dia, lalu bergaul dengan kawan
seiman yang lebih menyenangkan. Di sini dibutuhkan penyangkalan diri,
kesabaran, dan kerendahan hati. Namun, percayalah: penerimaan Anda
akan menyentuh hidup mereka! -JTI
SEBUAH PENERIMAAN YANG TULUS
MEMBUAT JALAN MENUJU TUHAN MENJADI MULUS
Dikutip dari : www.sabda.org
Rabu, 09 September 2009
Mitra Sejajar
Jawab Barak kepada Debora: "Jika engkau turut maju aku pun
maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju"
(Hakim-hakim 4:8).
Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun, ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling
wanita." Demikian petikan syair lagu lama berjudul Sabda Alam,
ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan "wanita dijajah pria" dan "pria
tekuk lutut di sudut kerling wanita", menggambarkan seolah-olah pria
dan wanita berhadapan sebagai lawan. Namun, harus diakui bahwa
penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi dalam kenyataan. Pria
dan wanita tidak berdampingan sebagai mitra, tetapi sebagai pesaing;
tidak saling mendukung, tetapi saling menundukkan; tidak saling
melengkapi, tetapi saling mempreteli.
Hal ini jelas tidak sesuai dengan rencana Allah ketika menciptakan
pria dan wanita. Di dalam Kejadian 1:27 dikatakan, "Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."
Artinya, baik pria maupun wanita sama-sama segambar dengan Allah;
keduanya sama penting di hadapan Allah. Sederajat. Sepadan.
Debora dan Barak memberi contoh yang sangat baik tentang makna
kemitraan pria dan wanita. Mereka bahu-membahu memimpin umat Israel
mengalahkan musuhnya. Kuncinya adalah merendahkan hati untuk
menyadari dan mengakui, bahwa masing-masing, pria dan wanita, saling
membutuhkan. Pria tidak lengkap tanpa wanita, wanita tidak lengkap
tanpa pria. Begitu juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama
pentingnya. Kalau suami itu "kepala" keluarga, istri adalah "leher"
keluarga. Dengan kesadaran dan pengakuan demikian, pria dan wanita
bisa membangun relasi berdasarkan saling menghargai dan menghormati
-AYA
KEMITRAAN PRIA DAN WANITA AKAN TERJALIN BAIK
KALAU MASING-MASING PUNYA RASA RESPEK DAN HORMAT
Dikutip dari : www.sabda.org
maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju"
(Hakim-hakim 4:8).
Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun, ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling
wanita." Demikian petikan syair lagu lama berjudul Sabda Alam,
ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan "wanita dijajah pria" dan "pria
tekuk lutut di sudut kerling wanita", menggambarkan seolah-olah pria
dan wanita berhadapan sebagai lawan. Namun, harus diakui bahwa
penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi dalam kenyataan. Pria
dan wanita tidak berdampingan sebagai mitra, tetapi sebagai pesaing;
tidak saling mendukung, tetapi saling menundukkan; tidak saling
melengkapi, tetapi saling mempreteli.
Hal ini jelas tidak sesuai dengan rencana Allah ketika menciptakan
pria dan wanita. Di dalam Kejadian 1:27 dikatakan, "Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."
Artinya, baik pria maupun wanita sama-sama segambar dengan Allah;
keduanya sama penting di hadapan Allah. Sederajat. Sepadan.
Debora dan Barak memberi contoh yang sangat baik tentang makna
kemitraan pria dan wanita. Mereka bahu-membahu memimpin umat Israel
mengalahkan musuhnya. Kuncinya adalah merendahkan hati untuk
menyadari dan mengakui, bahwa masing-masing, pria dan wanita, saling
membutuhkan. Pria tidak lengkap tanpa wanita, wanita tidak lengkap
tanpa pria. Begitu juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama
pentingnya. Kalau suami itu "kepala" keluarga, istri adalah "leher"
keluarga. Dengan kesadaran dan pengakuan demikian, pria dan wanita
bisa membangun relasi berdasarkan saling menghargai dan menghormati
-AYA
KEMITRAAN PRIA DAN WANITA AKAN TERJALIN BAIK
KALAU MASING-MASING PUNYA RASA RESPEK DAN HORMAT
Dikutip dari : www.sabda.org
JANGAN LUPA DIRI
Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi
dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah
(Lukas 12:21).
C.S. Lewis, dalam bukunya yang berjudul The Screwtape Letters,
mengungkapkan, "Kesuksesan dan kemakmuran mengikat manusia kepada
dunia. Manusia merasa mengejar kesuksesan dan kemakmuran sebagai
suatu proses dalam hidup untuk menemukan tempatnya di dalam dunia.
Padahal sebenarnya dunialah yang sedang mencuri tempat di dalam
hatinya."
Di dunia ini, kesuksesan dan kemakmuran seseorang umumnya diukur
dengan kemapanan pekerjaan dan besar kecilnya penghasilan. Untuk
mencapai hal-hal itu, acap kali kita sudah berencana sejak kecil,
dengan belajar rajin dan bekerja keras agar dapat masuk ke sekolah
unggulan, universitas favorit, dan akhirnya perusahaan yang
bergengsi. Ditambah dengan persaingan yang semakin hari semakin
ketat, kita pun belajar lebih rajin lagi dengan mengikuti les ini dan
les itu-tiada habisnya, memacu diri dengan bekerja lembur, menghadiri
malam-malam networking guna mencari peluang bisnis, dan sebagainya.
Pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang besar tentu bukan sesuatu
yang buruk. Akan tetapi, kita harus sangat berhati-hati saat berusaha
mencapai prestasi dan penghasilan yang mapan. Jangan biarkan diri
kita menjadi sangat terikat pada hal-hal tersebut, sebab keberadaan
kita di dunia hanya sementara waktu. Seperti kisah orang kaya yang
bodoh dalam firman Tuhan hari ini. Pemazmur mengatakan usia manusia
mungkin tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun. Jadi,
kita tak boleh berusaha terlalu keras atau merasa terlalu nyaman di
dunia sampai melupakan kehidupan kekal -MDH
JANGAN MELEKATKAN HATI KEPADA HARTA KEKAYAAN
Dikutip dari : www.sabda.org
dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah
(Lukas 12:21).
C.S. Lewis, dalam bukunya yang berjudul The Screwtape Letters,
mengungkapkan, "Kesuksesan dan kemakmuran mengikat manusia kepada
dunia. Manusia merasa mengejar kesuksesan dan kemakmuran sebagai
suatu proses dalam hidup untuk menemukan tempatnya di dalam dunia.
Padahal sebenarnya dunialah yang sedang mencuri tempat di dalam
hatinya."
Di dunia ini, kesuksesan dan kemakmuran seseorang umumnya diukur
dengan kemapanan pekerjaan dan besar kecilnya penghasilan. Untuk
mencapai hal-hal itu, acap kali kita sudah berencana sejak kecil,
dengan belajar rajin dan bekerja keras agar dapat masuk ke sekolah
unggulan, universitas favorit, dan akhirnya perusahaan yang
bergengsi. Ditambah dengan persaingan yang semakin hari semakin
ketat, kita pun belajar lebih rajin lagi dengan mengikuti les ini dan
les itu-tiada habisnya, memacu diri dengan bekerja lembur, menghadiri
malam-malam networking guna mencari peluang bisnis, dan sebagainya.
Pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang besar tentu bukan sesuatu
yang buruk. Akan tetapi, kita harus sangat berhati-hati saat berusaha
mencapai prestasi dan penghasilan yang mapan. Jangan biarkan diri
kita menjadi sangat terikat pada hal-hal tersebut, sebab keberadaan
kita di dunia hanya sementara waktu. Seperti kisah orang kaya yang
bodoh dalam firman Tuhan hari ini. Pemazmur mengatakan usia manusia
mungkin tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun. Jadi,
kita tak boleh berusaha terlalu keras atau merasa terlalu nyaman di
dunia sampai melupakan kehidupan kekal -MDH
JANGAN MELEKATKAN HATI KEPADA HARTA KEKAYAAN
Dikutip dari : www.sabda.org
WAKTU BERSAMA ALLAH
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab
kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh
sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan
keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26).
kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh
sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan
keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26).
Apabila kita berada di puncak gunung, kita bisa melihat pemandangan
yang luar biasa indah. Cakrawala terbentang. Sejauh mata memandang,
alam semesta begitu indah hingga ke kaki langit. Matahari yang
merekah. Awan yang berarak. Pepohonan yang hijau. Sawah ladang yang
menguning. Aliran sungai yang meliuk dengan riaknya yang indah. Tak
ada yang menghalangi pandangan mata kita. Namun, sangat berbeda kalau
kita ada pada jarak dekat. Yang tampak adalah banyaknya semak
belukar, pepohonan yang tak semua hijau, bahkan penuh ranting dan
duri.
Serupa dengan itu, kita juga akan melihat hal yang luar biasa indah
jika kita berada di tempat yang tinggi. Yakni apabila kita meletakkan
hati kita di tempat Allah berada. Hanya dengan demikian, kita dapat
tampak indah. Kita tidak akan kekurangan bahan untuk mengucap
syukur. Dan, tidak terlalu sulit untuk mencapainya, hanya sejauh doa
kita. Dengan memiliki relasi pribadi yang erat dengan Tuhan. Jika
kita merasa lelah, beban begitu berat, berbagai persoalan menimpa,
hingga hidup begitu hampa, datanglah kepada-Nya.
Terkadang lidah kita terasa kelu untuk mengungkapkan semua beban
hidup ini. Ingatlah bahwa Allah Roh Kudus bersama kita. Dialah yang
akan menolong kita untuk berdoa, sekalipun kerap kali kita tidak tahu
apa yang harus kita ucapkan. Roh Kudus akan membawa kita ke hadirat
Allah Yang Mahatinggi, dan menolong kita melihat semua hal yang ada
dalam hidup kita, dari tempat Allah melihatnya. Di dalam doa, Dia
menolong kita melihat indahnya lika-liku hidup kita bersama Allah
-SSTmelihat segala yang terjadi dalam kacamata Allah. Maka, segalanya
akan
DI TEMPAT ALLAH MELIHAT, KITA MENDAPATI BAHWA
JIKA KITA BERSAMA-NYA, ITU SUDAH CUKUP!
Dikutip dari : www.sabda.org
Selasa, 08 September 2009
FIGUR BAPA
Dan kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam
hati anak-anakmu (Efesus 6:4).
Salah satu penyebab terbesar rusaknya generasi ini adalah karena
mereka tidak mendapatkan figur bapa. Jika figur bapa dipulihkan, maka
generasi ini juga akan mengalami pemulihan. Dalam buku Father's
Connection karya Josh McDowell, ada sebuah data yang sangat menarik.
hati anak-anakmu (Efesus 6:4).
Salah satu penyebab terbesar rusaknya generasi ini adalah karena
mereka tidak mendapatkan figur bapa. Jika figur bapa dipulihkan, maka
generasi ini juga akan mengalami pemulihan. Dalam buku Father's
Connection karya Josh McDowell, ada sebuah data yang sangat menarik.
Pertama, Dr. Loren Moshen menemukan bahwa sebagian besar pelanggaran
hukum yang dilakukan remaja dan pemuda sebenarnya bukan karena
kemiskinan, tetapi karena ketidakhadiran ayah. Mereka tidak memiliki
figur bapa. Kedua, 60% gadis remaja yang dibesarkan tanpa ayah,
cenderung melakukan hubungan seks sebelum menikah. Ketiga, hampir
sebagian besar hidup manusia dipengaruhi oleh orangtua. Jika
dibesarkan dengan kecaman, anak jadi suka mencela. Jika dibesarkan
dalam permusuhan, anak jadi suka bertengkar. Jika orangtua tak pernah
mendukung, anak jadi minder dan tak percaya diri. Dan sebagainya.
hukum yang dilakukan remaja dan pemuda sebenarnya bukan karena
kemiskinan, tetapi karena ketidakhadiran ayah. Mereka tidak memiliki
figur bapa. Kedua, 60% gadis remaja yang dibesarkan tanpa ayah,
cenderung melakukan hubungan seks sebelum menikah. Ketiga, hampir
sebagian besar hidup manusia dipengaruhi oleh orangtua. Jika
dibesarkan dengan kecaman, anak jadi suka mencela. Jika dibesarkan
dalam permusuhan, anak jadi suka bertengkar. Jika orangtua tak pernah
mendukung, anak jadi minder dan tak percaya diri. Dan sebagainya.
Jika anak kita bertumbuh menjadi anak yang nakal, suka memberontak,
bahkan melakukan tindakan-tindakan kriminal, yang pertama kali mesti
dikoreksi bukanlah mereka, melainkan kita. Terlebih dulu kita perlu
menjawab pertanyaan ini, "Apakah kita sudah menjadi figur bapa yang
baik bagi mereka?"
bahkan melakukan tindakan-tindakan kriminal, yang pertama kali mesti
dikoreksi bukanlah mereka, melainkan kita. Terlebih dulu kita perlu
menjawab pertanyaan ini, "Apakah kita sudah menjadi figur bapa yang
baik bagi mereka?"
Mungkin selama ini kita frustrasi mengubah sikap anak kita yang
buruk. Sampai-sampai kita merasa gagal mendidik mereka. Kini, izinkan
Roh Kudus membuka mata rohani kita, sehingga kita bisa lebih dulu
berkomitmen untuk berubah. Agar kita dapat menjadi orangtua yang tak
hanya berteori, tetapi memberi teladan hidup yang baik. Orangtua yang
bijak dan punya integritas. Orangtua yang mampu membuat hati
anak-anak bangga memiliki kita.
buruk. Sampai-sampai kita merasa gagal mendidik mereka. Kini, izinkan
Roh Kudus membuka mata rohani kita, sehingga kita bisa lebih dulu
berkomitmen untuk berubah. Agar kita dapat menjadi orangtua yang tak
hanya berteori, tetapi memberi teladan hidup yang baik. Orangtua yang
bijak dan punya integritas. Orangtua yang mampu membuat hati
anak-anak bangga memiliki kita.
KETIKA FIGUR BAPA DALAM DIRI KITA DIPULIHKAN
ANAK-ANAK KITA JUGA PASTI MENGALAMI PEMULIHAN!
Dikutip dari : wwww.sabda.org
TUGAS KITA
Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi,
sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang
mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1Yohanes 4:7).
Pada 24 November 1974, John Stott, seorang pendeta senior dari
Inggris, yang oleh Majalah Times dimasukkan ke dalam daftar 100 tokoh
berpengaruh di dunia, mengakhiri khotbahnya dengan bercerita tentang
gereja yang diimpikannya. Salah satunya adalah: gereja yang
memelihara, yang anggotanya beragam latar belakang, memiliki
persekutuan yang hangat dan terhindar dari pementingan diri sendiri,
yang anggotanya saling mengasihi dengan tulus, dan juga yang mau
membantu orang lain.
sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang
mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1Yohanes 4:7).
Pada 24 November 1974, John Stott, seorang pendeta senior dari
Inggris, yang oleh Majalah Times dimasukkan ke dalam daftar 100 tokoh
berpengaruh di dunia, mengakhiri khotbahnya dengan bercerita tentang
gereja yang diimpikannya. Salah satunya adalah: gereja yang
memelihara, yang anggotanya beragam latar belakang, memiliki
persekutuan yang hangat dan terhindar dari pementingan diri sendiri,
yang anggotanya saling mengasihi dengan tulus, dan juga yang mau
membantu orang lain.
Sebuah mimpi yang indah dan penting. Sebab itulah salah satu tugas
gereja, yaitu menjadi "wadah" para warganya untuk bertumbuh dalam
iman, dan berbuah dalam sikap hidup sehari-hari, sehingga dunia dapat
merasakan nilai kehadirannya. Masalahnya, kita kerap menganggap itu
hanyalah tugas gereja sebagai institusi, dan bukan tugas kita secara
pribadi. Padahal gereja adalah orang-orangnya. Kita. Anda dan saya.
Orang-orang yang dipanggil dari kegelapan dan diselamatkan oleh
Kristus.
gereja, yaitu menjadi "wadah" para warganya untuk bertumbuh dalam
iman, dan berbuah dalam sikap hidup sehari-hari, sehingga dunia dapat
merasakan nilai kehadirannya. Masalahnya, kita kerap menganggap itu
hanyalah tugas gereja sebagai institusi, dan bukan tugas kita secara
pribadi. Padahal gereja adalah orang-orangnya. Kita. Anda dan saya.
Orang-orang yang dipanggil dari kegelapan dan diselamatkan oleh
Kristus.
Biarlah orang lain "melihat" Allah melalui gerejanya. Melalui kita.
Caranya, dengan memiliki sikap hidup saling mengasihi (ayat 7). Tidak
masalah jika kita hidup dalam keragaman dan perbedaan-suku, bahasa,
budaya, talenta, status sosial-kita tetap bisa terekat dalam
kebersamaan; kehangatan persekutuan dan ketulusan untuk saling
peduli. Tidak menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain.
Sebaliknya selalu merasa tidak sempurna tanpa orang lain. Ya, adalah
tugas kita untuk membuat orang lain dapat melihat dan merasakan kasih
Allah; melalui sikap dan tutur kata kita -AYA
Caranya, dengan memiliki sikap hidup saling mengasihi (ayat 7). Tidak
masalah jika kita hidup dalam keragaman dan perbedaan-suku, bahasa,
budaya, talenta, status sosial-kita tetap bisa terekat dalam
kebersamaan; kehangatan persekutuan dan ketulusan untuk saling
peduli. Tidak menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain.
Sebaliknya selalu merasa tidak sempurna tanpa orang lain. Ya, adalah
tugas kita untuk membuat orang lain dapat melihat dan merasakan kasih
Allah; melalui sikap dan tutur kata kita -AYA
MENGATAKAN APA YANG KITA LAKUKAN, MEMANG PENTING
NAMUN MELAKUKAN APA YANG KITA KATAKAN, ITU LEBIH PENTING
Dikutip dari : www.sabda.org
Sabtu, 29 Agustus 2009
KUNCINYA MAU
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak
diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan
mereka yang membawa kabar baik!" (Roma 10:15)
Salah satu panggilan kita sebagai orang yang sudah mengenal dan
percaya kepada Kristus, adalah memberitakan Kristus kepada sebanyak
mungkin orang. Sehingga semakin banyak pula orang yang mengenal dan
percaya kepada Dia. Untuk itu, kita tidak mesti menjadi pendeta atau
penginjil. Kita bisa melakukannya sesuai kemampuan dan kesempatan
yang kita punya.
Seperti John Nicholson dan Samuel Hill, dua orang salesman keliling.
Suatu malam di tahun 1989 mereka bertemu di sebuah hotel. Dari
perbincangan mereka tebersit suatu gagasan, alangkah baiknya apabila
ada Alkitab di dalam kamar hotelnya. Bersama seorang rekan lainnya,
W.J. Knight, mereka kemudian membentuk sebuah yayasan untuk
menyalurkan Alkitab ke hotel-hotel. Yayasan mereka diberi nama
Gideon, salah seorang hakim dalam Kitab Hakim-hakim.
Kini hampir di seluruh hotel di Eropa dan Amerika Serikat, kita bisa
menemukan Alkitab dari The Gideons di laci meja kamar hotel. Mereka
juga menempatkan Alkitab di rumah-rumah sakit, penjara, dan
gedung-gedung asrama. Saat ini, The Gideons telah menyalurkan Alkitab
lebih dari satu juta buah per minggu ke mancanegara. Entah sudah
berapa banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Kristus karena
pelayanan mereka ini.
Jadi, seperti dalam permainan sepak bola, tidak semua orang mesti
jadi pemain. Ada peran-peran lain yang juga penting, seperti pelatih,
asisten pelatih, dokter, atau bahkan tukang urut. Begitu juga dalam
memberitakan Kristus. Kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi
dalam peran dan kapasitas kita masing-masing. Kuncinya mau -AYA
Dikutip dar : www.sabda.org
diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan
mereka yang membawa kabar baik!" (Roma 10:15)
Salah satu panggilan kita sebagai orang yang sudah mengenal dan
percaya kepada Kristus, adalah memberitakan Kristus kepada sebanyak
mungkin orang. Sehingga semakin banyak pula orang yang mengenal dan
percaya kepada Dia. Untuk itu, kita tidak mesti menjadi pendeta atau
penginjil. Kita bisa melakukannya sesuai kemampuan dan kesempatan
yang kita punya.
Seperti John Nicholson dan Samuel Hill, dua orang salesman keliling.
Suatu malam di tahun 1989 mereka bertemu di sebuah hotel. Dari
perbincangan mereka tebersit suatu gagasan, alangkah baiknya apabila
ada Alkitab di dalam kamar hotelnya. Bersama seorang rekan lainnya,
W.J. Knight, mereka kemudian membentuk sebuah yayasan untuk
menyalurkan Alkitab ke hotel-hotel. Yayasan mereka diberi nama
Gideon, salah seorang hakim dalam Kitab Hakim-hakim.
Kini hampir di seluruh hotel di Eropa dan Amerika Serikat, kita bisa
menemukan Alkitab dari The Gideons di laci meja kamar hotel. Mereka
juga menempatkan Alkitab di rumah-rumah sakit, penjara, dan
gedung-gedung asrama. Saat ini, The Gideons telah menyalurkan Alkitab
lebih dari satu juta buah per minggu ke mancanegara. Entah sudah
berapa banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Kristus karena
pelayanan mereka ini.
Jadi, seperti dalam permainan sepak bola, tidak semua orang mesti
jadi pemain. Ada peran-peran lain yang juga penting, seperti pelatih,
asisten pelatih, dokter, atau bahkan tukang urut. Begitu juga dalam
memberitakan Kristus. Kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi
dalam peran dan kapasitas kita masing-masing. Kuncinya mau -AYA
DI MANA PUN DAN KAPAN PUN KITA BISA BERPARTISIPASI
DALAM MEMBERITAKAN KRISTUS
DALAM MEMBERITAKAN KRISTUS
Dikutip dar : www.sabda.org
Kamis, 27 Agustus 2009
LARI! JANGAN DIAM
Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan
lari ke luar (Kejadian 39:12)
Suatu kali ada seorang pemuda yang bertanya demikian, "Apa yang harus
saya lakukan jika suatu hari saya jalan-jalan di pantai lalu melihat
seorang wanita dengan pakaian ala kadarnya? Kan pada saat itu saya
tidak sengaja melihatnya." Jawabannya bukan pura-pura tidak melihat,
menutup mata, atau mengalihkan pandangan ke arah yang lain, tetapi
"LARILAH". Pergilah dari tempat itu jangan berdiam diri. Mengapa?
Karena kita harus menyadari kelemahan kita untuk jatuh dalam dosa.
lari ke luar (Kejadian 39:12)
Suatu kali ada seorang pemuda yang bertanya demikian, "Apa yang harus
saya lakukan jika suatu hari saya jalan-jalan di pantai lalu melihat
seorang wanita dengan pakaian ala kadarnya? Kan pada saat itu saya
tidak sengaja melihatnya." Jawabannya bukan pura-pura tidak melihat,
menutup mata, atau mengalihkan pandangan ke arah yang lain, tetapi
"LARILAH". Pergilah dari tempat itu jangan berdiam diri. Mengapa?
Karena kita harus menyadari kelemahan kita untuk jatuh dalam dosa.
Apa yang dilakukan oleh Yusuf sangatlah tepat. Ketika godaan datang,
ia tidak cuma "pura-pura tidak melihat", tetapi benar-benar lari ke
luar. Padahal saat itu sangatlah mudah bagi Yusuf untuk berbuat dosa
sekaligus menutupinya. Pertama, dalam rumah Potifar pada saat itu
sepi, tidak ada siapa-siapa. Kedua, Yusuf memiliki kuasa yang sangat
besar untuk menutup mulut semua pegawainya agar tak memberitahukan
perselingkuhannya kepada Potifar. Yusuf adalah seorang kepala rumah
tangga yang mana semua pegawai di rumah itu harus tunduk kepada
perintahnya, terlebih jikalau istri Potifar terlibat di sana. Jadi,
secara posisi Yusuf berada di posisi yang aman untuk berbuat dosa.
Akan tetapi, Yusuf tak melakukannya, dan ia tidak diam di tempat,
tetapi ia lari meninggalkan godaan tersebut.
ia tidak cuma "pura-pura tidak melihat", tetapi benar-benar lari ke
luar. Padahal saat itu sangatlah mudah bagi Yusuf untuk berbuat dosa
sekaligus menutupinya. Pertama, dalam rumah Potifar pada saat itu
sepi, tidak ada siapa-siapa. Kedua, Yusuf memiliki kuasa yang sangat
besar untuk menutup mulut semua pegawainya agar tak memberitahukan
perselingkuhannya kepada Potifar. Yusuf adalah seorang kepala rumah
tangga yang mana semua pegawai di rumah itu harus tunduk kepada
perintahnya, terlebih jikalau istri Potifar terlibat di sana. Jadi,
secara posisi Yusuf berada di posisi yang aman untuk berbuat dosa.
Akan tetapi, Yusuf tak melakukannya, dan ia tidak diam di tempat,
tetapi ia lari meninggalkan godaan tersebut.
Dalam hidup ini, jangalah sekali-kali merasa kuat terhadap godaan.
Seperti Tuhan Yesus juga pernah mengingatkan, "roh memang penurut
tetapi daging lemah" (Matius 26:41). Intinya jangan "bermain-main"
dengan godaan, sebab akan ada satu titik di mana kita malah akan
terseret. Jangan! Larilah menjauh -RY
Seperti Tuhan Yesus juga pernah mengingatkan, "roh memang penurut
tetapi daging lemah" (Matius 26:41). Intinya jangan "bermain-main"
dengan godaan, sebab akan ada satu titik di mana kita malah akan
terseret. Jangan! Larilah menjauh -RY
JIKALAU ADA SINGA DI DEPAN JALAN
KENAPA TIDAK MENCARI JALAN LAIN UNTUK MENGHINDARINYA
Dikutip dari : www.sabda.org
TAMAK MEMBAWA PETAKA
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Timotius 6:8)
Ada sebuah cerita tentang seorang kaya raya bernama Brojo. Ia
memiliki tanah pertanian sangat luas. Suatu hari seorang perantau
bertamu ke rumahnya, dan bercerita tentang negeri penuh berlian di
seberang lautan. Timbul sifat tamak Brojo. "Aku harus memiliki negeri
itu," katanya dalam hati. Ia kemudian menjual seluruh tanah
pertaniannya, dan pergi ke seberang lautan mencari negeri berlian.
Tetapi pencariannya itu ternyata sia-sia. Bertahun-tahun ia merantau
dengan tangan hampa. Akhirnya, ia jatuh miskin.
Ada sebuah cerita tentang seorang kaya raya bernama Brojo. Ia
memiliki tanah pertanian sangat luas. Suatu hari seorang perantau
bertamu ke rumahnya, dan bercerita tentang negeri penuh berlian di
seberang lautan. Timbul sifat tamak Brojo. "Aku harus memiliki negeri
itu," katanya dalam hati. Ia kemudian menjual seluruh tanah
pertaniannya, dan pergi ke seberang lautan mencari negeri berlian.
Tetapi pencariannya itu ternyata sia-sia. Bertahun-tahun ia merantau
dengan tangan hampa. Akhirnya, ia jatuh miskin.
Sementara itu orang yang membeli tanah pertaniannya suatu hari
melihat cahaya berkilau dari sebuah batu. Ia mendekati untuk
melihatnya lebih jelas. Dan apa yang dilihatnya? Tak dinyana tak
diduga, ternyata batu itu sebuah berlian. Ia pun lalu menggali
tanahnya, dan menemukan batu-batu berlian lainnya.
melihat cahaya berkilau dari sebuah batu. Ia mendekati untuk
melihatnya lebih jelas. Dan apa yang dilihatnya? Tak dinyana tak
diduga, ternyata batu itu sebuah berlian. Ia pun lalu menggali
tanahnya, dan menemukan batu-batu berlian lainnya.
Hikmah dari cerita itu adalah, betapa pentingnya kita belajar tahu
batas. Jangan tamak. Syukuri apa yang ada. Nikmati apa yang dipunya.
Sebab kalau terus merasa kurang, tidak pernah puas dengan apa yang
ada, selalu ingin lebih dan lebih lagi, salah-salah kita malah akan
kehilangan segala-galanya.
batas. Jangan tamak. Syukuri apa yang ada. Nikmati apa yang dipunya.
Sebab kalau terus merasa kurang, tidak pernah puas dengan apa yang
ada, selalu ingin lebih dan lebih lagi, salah-salah kita malah akan
kehilangan segala-galanya.
Paulus mengingatkan Timotius untuk belajar mencukupkan diri. Lebih
dari itu supaya Timotius juga bisa menjaga diri dari sifat tamak.
Sebab "mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam
jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan,
yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan" (ayat
9). Kiranya kita dijauhkan dari ketamakan -AYA
dari itu supaya Timotius juga bisa menjaga diri dari sifat tamak.
Sebab "mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam
jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan,
yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan" (ayat
9). Kiranya kita dijauhkan dari ketamakan -AYA
DENGAN MENJAUHKAN DIRI DARI KETAMAKAN
KITA TELAH MENJAGA DIRI DARI KEHANCURAN
Dikutip dari : www.sabda.org
Selasa, 18 Agustus 2009
TEKUN BEKERJA
Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti (Rut 2:7).
Bekerja sebagai regu pemadam kebakaran itu unik. Menurut Dr. Terence Keane, seorang pengamat perilaku, hanya 5% waktu mereka dipakai untuk memadamkan api. Sisanya, 95% waktu dipakai untuk menunggu. Ini membuat banyak pemadam kebakaran kerap merasa bosan, sehingga mereka disarankan agar melakukan pekerjaan lain untuk mengisi waktu, tetapi tetap siaga. Orang yang tidak bekerja akan merasa hidupnya tak bermakna. Tak bersemangat. Sebaliknya, kesibukan bekerja akan meningkatkan vitalitas hidup!
Rut dan mertuanya tiba di Israel tanpa membawa apa pun. Melarat. Fakta ini mengharuskan Rut segera berjuang mencari makan agar mereka berdua bisa tetap hidup. Rut tidak suka berpangku tangan, apalagi meminta-minta sambil menunggu belas kasihan orang. Rut lebih suka bekerja. Maka, ia mohon diperkenankan memungut sisa bulir-bulir jelai yang berceceran. Pekerjaan kasar ini ia tekuni dari pagi sampai sore. Melelahkan. Namun, Rut bekerja dengan tekun. "Seketika pun ia tidak berhenti," karena didorong oleh rasa tanggung jawabnya. Rut bekerja keras melakukan yang terbaik, meski pekerjaannya sangat tidak menyenangkan. Dan, Tuhan memberkati karyanya.
Mungkin pekerjaan Anda lebih nyaman daripada Rut. Sudahkah Anda bekerja segiat dia: melakukan yang terbaik? Ataukah kita bermalas-malasan dan bekerja ala kadarnya? Ingatlah bahwa setiap pekerjaan adalah anugerah Tuhan. Berapa pun upah yang Anda terima, pekerjaan membuat kita merasa diri berharga. Pekerjaan membuat kita mampu mandiri. Jika dilakukan dengan giat dan penuh dedikasi, pekerjaan akan membawa kemuliaan besar bagi Tuhan -JTI
Bekerja sebagai regu pemadam kebakaran itu unik. Menurut Dr. Terence Keane, seorang pengamat perilaku, hanya 5% waktu mereka dipakai untuk memadamkan api. Sisanya, 95% waktu dipakai untuk menunggu. Ini membuat banyak pemadam kebakaran kerap merasa bosan, sehingga mereka disarankan agar melakukan pekerjaan lain untuk mengisi waktu, tetapi tetap siaga. Orang yang tidak bekerja akan merasa hidupnya tak bermakna. Tak bersemangat. Sebaliknya, kesibukan bekerja akan meningkatkan vitalitas hidup!
Rut dan mertuanya tiba di Israel tanpa membawa apa pun. Melarat. Fakta ini mengharuskan Rut segera berjuang mencari makan agar mereka berdua bisa tetap hidup. Rut tidak suka berpangku tangan, apalagi meminta-minta sambil menunggu belas kasihan orang. Rut lebih suka bekerja. Maka, ia mohon diperkenankan memungut sisa bulir-bulir jelai yang berceceran. Pekerjaan kasar ini ia tekuni dari pagi sampai sore. Melelahkan. Namun, Rut bekerja dengan tekun. "Seketika pun ia tidak berhenti," karena didorong oleh rasa tanggung jawabnya. Rut bekerja keras melakukan yang terbaik, meski pekerjaannya sangat tidak menyenangkan. Dan, Tuhan memberkati karyanya.
Mungkin pekerjaan Anda lebih nyaman daripada Rut. Sudahkah Anda bekerja segiat dia: melakukan yang terbaik? Ataukah kita bermalas-malasan dan bekerja ala kadarnya? Ingatlah bahwa setiap pekerjaan adalah anugerah Tuhan. Berapa pun upah yang Anda terima, pekerjaan membuat kita merasa diri berharga. Pekerjaan membuat kita mampu mandiri. Jika dilakukan dengan giat dan penuh dedikasi, pekerjaan akan membawa kemuliaan besar bagi Tuhan -JTI
JANGAN BEKERJA ALA KADARNYA
BEKERJALAH SEOLAH TUHAN-LAH BOS ANDA
Dikutip dari : www.sabda.org
Senin, 17 Agustus 2009
BAHAYA LEBIH BESAR
Di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14).
Sebuah kapal yang tengah berlayar di lautan lepas diterjang amukan badai dahsyat. Para awak kapal berjuang keras mengendalikan kapal yang oleng. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari ruang bawah. Dua orang awak kapal berlari turun. Ternyata sepucuk meriam terlepas dari ikatannya. Tepat ketika kedua awak itu sampai di ruang bawah, meriam itu tengah meluncur deras terbawa ayunan ombak menuju lambung kapal. Tanpa berpikir dua kali, keduanya segera bertindak ; menarik meriam itu dan mengikatnya kembali di tempatnya. Andai meriam itu jadi menabrak lambung kapal, bahaya yang mereka hadapi jauh lebih besar dari amukan badai di luar.
Gereja seumpama kapal yang tengah berlayar di lautan dunia. Ia harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan ancaman dari luar. Namun, tidak jarang yang lebih berbahaya adalah tantangan dan ancaman dari dalam tubuh gereja sendiri. Kekerasan hati, kesombongan, iri dengki, egoisme, dan ambisi pribadi dari segelintir orang, yang berujung hilangnya damai sejahtera dan sukacita di gereja. Atau, bahkan berakhir dengan perpecahan. Tidak jarang gereja bisa bertahan terhadap ruparupa tekanan dari luar, tetapi ambruk karena pertengkaran di dalam. Menyedihkan!
Untuk itu, tidak ada cara lain selain kembali ke prinsip dasar hidup kristiani, yaitu kasih (ayat 14). Kasih yang bertolak dari damai sejahtera Kristus (ayat 15), dan yang terwujud dalam belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, danpengampunan (ayat 12,13). Hanya dengan begitu perpecahan jemaat dapat dihindarkan -AYA
Sebuah kapal yang tengah berlayar di lautan lepas diterjang amukan badai dahsyat. Para awak kapal berjuang keras mengendalikan kapal yang oleng. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari ruang bawah. Dua orang awak kapal berlari turun. Ternyata sepucuk meriam terlepas dari ikatannya. Tepat ketika kedua awak itu sampai di ruang bawah, meriam itu tengah meluncur deras terbawa ayunan ombak menuju lambung kapal. Tanpa berpikir dua kali, keduanya segera bertindak ; menarik meriam itu dan mengikatnya kembali di tempatnya. Andai meriam itu jadi menabrak lambung kapal, bahaya yang mereka hadapi jauh lebih besar dari amukan badai di luar.
Gereja seumpama kapal yang tengah berlayar di lautan dunia. Ia harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan ancaman dari luar. Namun, tidak jarang yang lebih berbahaya adalah tantangan dan ancaman dari dalam tubuh gereja sendiri. Kekerasan hati, kesombongan, iri dengki, egoisme, dan ambisi pribadi dari segelintir orang, yang berujung hilangnya damai sejahtera dan sukacita di gereja. Atau, bahkan berakhir dengan perpecahan. Tidak jarang gereja bisa bertahan terhadap ruparupa tekanan dari luar, tetapi ambruk karena pertengkaran di dalam. Menyedihkan!
Untuk itu, tidak ada cara lain selain kembali ke prinsip dasar hidup kristiani, yaitu kasih (ayat 14). Kasih yang bertolak dari damai sejahtera Kristus (ayat 15), dan yang terwujud dalam belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, danpengampunan (ayat 12,13). Hanya dengan begitu perpecahan jemaat dapat dihindarkan -AYA
DI MANA ADA ROH PERPECAHAN
DI SITU TIDAK ADA ROH KASIH
Dikutip dari : www.sabda.org
DIAM SAJA
Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara Tuhan, Allahmu, sehingga Tuhan menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu (Yeremia 26:13)
Dalam miniseri HITLER: The Rise of Evil yang bercerita tentang Adolf Hitler, sang pemimpin NAZI yang membantai jutaan orang pada 1940-an, terdapat sebuah kalimat, "The only thing necessary for the triumph ofevil is for good men to do nothing." Kalimat ini dapat diterjemahkan," Yang diperlukan oleh kejahatan untuk berjaya adalah orang-orang baik yang diam saja. "
Yeremia hidup pada masa ketika kejahatan merajalela di Israel. Dalam situasi itulah ia diutus Tuhan untuk memperingatkan dan mempertobatkan bangsa Israel. Dapat kita katakan bahwa ia dipanggil untuk melawan arus, sehingga pesannya acap kali tidak menyenangkan hati para pendengarnya. Firman Tuhan hari ini adalah salah satu contohnya. Di situ ia menyampaikan teguran dan ancaman Tuhan bagi bangsa Israel (ayat 1-6). Tujuannya adalah supaya para pendengarnya bertobat (ayat 3). Sangat disayangkan bahwa akhirnya mereka justru marah dan ingin membunuh Yeremia (ayat 8,11). Namun, ketaatan dan keberanian Yeremia ini adalah sesuatu yang perlu kita teladani.
Jika kita melihat sesuatu yang tidak baik sedang berkembang disekitar kita, adalah tanggung jawab kita sebagai umat Allah untuk menyikapinya. Kalau bisa, kita rancang rencana-rencana yang akan mengubah keadaan. Kerap kali hal ini melibatkan kerja sama dengan orang lain yang juga sependapat dengan kita. Namun, jika itu tidak mungkin, setidaknya kita perlu berani berpendapat berbeda dan menyuarakan apa yang benar. Meskipun risikonya kita akan dikucilkan dan bahkan disingkirkan -ALS
Dalam miniseri HITLER: The Rise of Evil yang bercerita tentang Adolf Hitler, sang pemimpin NAZI yang membantai jutaan orang pada 1940-an, terdapat sebuah kalimat, "The only thing necessary for the triumph ofevil is for good men to do nothing." Kalimat ini dapat diterjemahkan," Yang diperlukan oleh kejahatan untuk berjaya adalah orang-orang baik yang diam saja. "
Yeremia hidup pada masa ketika kejahatan merajalela di Israel. Dalam situasi itulah ia diutus Tuhan untuk memperingatkan dan mempertobatkan bangsa Israel. Dapat kita katakan bahwa ia dipanggil untuk melawan arus, sehingga pesannya acap kali tidak menyenangkan hati para pendengarnya. Firman Tuhan hari ini adalah salah satu contohnya. Di situ ia menyampaikan teguran dan ancaman Tuhan bagi bangsa Israel (ayat 1-6). Tujuannya adalah supaya para pendengarnya bertobat (ayat 3). Sangat disayangkan bahwa akhirnya mereka justru marah dan ingin membunuh Yeremia (ayat 8,11). Namun, ketaatan dan keberanian Yeremia ini adalah sesuatu yang perlu kita teladani.
Jika kita melihat sesuatu yang tidak baik sedang berkembang disekitar kita, adalah tanggung jawab kita sebagai umat Allah untuk menyikapinya. Kalau bisa, kita rancang rencana-rencana yang akan mengubah keadaan. Kerap kali hal ini melibatkan kerja sama dengan orang lain yang juga sependapat dengan kita. Namun, jika itu tidak mungkin, setidaknya kita perlu berani berpendapat berbeda dan menyuarakan apa yang benar. Meskipun risikonya kita akan dikucilkan dan bahkan disingkirkan -ALS
JANGAN BIARKAN APA YANG TIDAK BAIK BERJAYA
KARENA KITA DIAM SAJA
Dikutip dari : www.sabda.org
Minggu, 09 Agustus 2009
PENGARUHNYA SEMAKIN BESAR
Apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya (Matius 13:32).
Di Indonesia, arus listrik sering padam. Entah karena kerusakan teknis atau pemadaman bergilir. Hal ini sangat meresahkan, karena masyarakat sudah sangat bergantung pada listrik. Dulu, listrik dipakai hanya sebatas menyalakan lampu. Kini, pemakaiannya merambah ke segala bidang. Hampir semua kegiatan memerlukan listrik : mendinginkan ruangan, menjalankan mesin, menonton televisi, menyalakan komputer, dan lain-lain. Pengaruhnya semakin besar. Tidak bisa lagi kita hidup nyaman tanpanya!
Pengaruh atau dampak Kerajaan Surga juga begitu. Ia seumpama biji sesawi. Mula-mula kecil mungil. Tak terasa hadirnya, apalagi dampaknya. Namun, setelah tumbuh, ia menjadi pohon besar tempat bernaung burung-burung. Dampaknya sangat terasa. Burung-burung tak bisa hidup nyaman tanpanya. Kerajaan Surga juga seumpama ragi dalam adonan. Ketika ditaruh sejumput, tampaknya tidak terjadi apa-apa. Namun, perlahan tetapi pasti, 3 sukat adonan (hampir 40 liter) akan dipengaruhi hingga mengembang. Itulah yang terjadi saat kita hidup dalam Kerajaan Surga. Sewaktu baru beriman pada Kristus, mungkinTuhan dan Firman-Nya belum terlalu memengaruhi hidup. Tetapi, makin lama dampaknya makin besar. Kristus dan Firman-Nya memengaruhi pikiran dan hati. Mewarnai setiap aksi. Menjadi sumber inspirasi.
Hidup dalam Kerajaan Allah tak pernah statis. Ada pertumbuhan. Pengaruh Kristus seharusnya semakin terasa, hingga kita tak nyaman lagi hidup tanpa merasakan hadir-Nya. Seberapa besar Yesus telah memengaruhi cara pikir, sikap, dan tindakan Anda? -JTI
Di Indonesia, arus listrik sering padam. Entah karena kerusakan teknis atau pemadaman bergilir. Hal ini sangat meresahkan, karena masyarakat sudah sangat bergantung pada listrik. Dulu, listrik dipakai hanya sebatas menyalakan lampu. Kini, pemakaiannya merambah ke segala bidang. Hampir semua kegiatan memerlukan listrik : mendinginkan ruangan, menjalankan mesin, menonton televisi, menyalakan komputer, dan lain-lain. Pengaruhnya semakin besar. Tidak bisa lagi kita hidup nyaman tanpanya!
Pengaruh atau dampak Kerajaan Surga juga begitu. Ia seumpama biji sesawi. Mula-mula kecil mungil. Tak terasa hadirnya, apalagi dampaknya. Namun, setelah tumbuh, ia menjadi pohon besar tempat bernaung burung-burung. Dampaknya sangat terasa. Burung-burung tak bisa hidup nyaman tanpanya. Kerajaan Surga juga seumpama ragi dalam adonan. Ketika ditaruh sejumput, tampaknya tidak terjadi apa-apa. Namun, perlahan tetapi pasti, 3 sukat adonan (hampir 40 liter) akan dipengaruhi hingga mengembang. Itulah yang terjadi saat kita hidup dalam Kerajaan Surga. Sewaktu baru beriman pada Kristus, mungkinTuhan dan Firman-Nya belum terlalu memengaruhi hidup. Tetapi, makin lama dampaknya makin besar. Kristus dan Firman-Nya memengaruhi pikiran dan hati. Mewarnai setiap aksi. Menjadi sumber inspirasi.
Hidup dalam Kerajaan Allah tak pernah statis. Ada pertumbuhan. Pengaruh Kristus seharusnya semakin terasa, hingga kita tak nyaman lagi hidup tanpa merasakan hadir-Nya. Seberapa besar Yesus telah memengaruhi cara pikir, sikap, dan tindakan Anda? -JTI
IMAN YANG HIDUP SELALU BERGERAK MAJU
TIDAK PERNAH BERHENTI DI TEMPAT
KEBESARAN MELAYANI
Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Markus 10:43).
Dalam teori manajemen dikenal adanya kepemimpinan melayani. Ternyata dengan melayani, pemimpin bisa menggerakkan orang dengan lebih efektif. Dengan melayani, orang tidak dipaksa untuk melakukan apa yang dilakukannya. Dari dalam hatinya akan muncul sebuah kerelaan yang di inspirasikan oleh karakter pemimpin yang telah lebih dahulu melayaninya. Dengan memakai studi ini, banyak manajer perusahaan mulai menerapkan prinsip ini. Artinya, melayani ditujukan untuk membuat orang yang dipimpin dengan sukarela mengikuti kepemimpinan dari para manajer perusahaan tersebut.
Meskipun prinsip manajemen di atas menarik, dan sering diklaim berasal dari Yesus, tetapi bukan itu yang dimaksud Yesus. Ketika itu para murid mulai punya ambisi untuk menjadi yang terbesar. Dalam benak mereka, menjadi terbesar itu berarti memiliki posisi, dihormati, dan berkuasa. Yesus menegur mereka. Menjadi besar bagiYesus memiliki jalan yang berbeda. Menempatkan diri di posisi terendah, dilupakan orang, dan rela melepaskan kuasa adalah kebesaran yang benar.
Jadi, ketika Yesus mengajarkan kita menjadi pelayan, hal itu tidak tergantung dari hasil yang didapatkan. Bagi Yesus, menjadi pelayanbagi orang lain sudah merupakan sebuah kebesaran jiwa dan watak. Kalau itu membuat orang lain bisa dipimpin dengan sukarela, maka tentu itu sesuatu yang baik. Namun, seandainya orang lain menolak dan menertawakan sikap melayani kita, kebesaran melayani itu tidak menjadi hilang. Menjadi pelayan itu sendiri adalah sebuah kebesaran. Di ikuti atau tidak diikuti bukanlah ukuran dari sebuah kebesaran -DBS
Dalam teori manajemen dikenal adanya kepemimpinan melayani. Ternyata dengan melayani, pemimpin bisa menggerakkan orang dengan lebih efektif. Dengan melayani, orang tidak dipaksa untuk melakukan apa yang dilakukannya. Dari dalam hatinya akan muncul sebuah kerelaan yang di inspirasikan oleh karakter pemimpin yang telah lebih dahulu melayaninya. Dengan memakai studi ini, banyak manajer perusahaan mulai menerapkan prinsip ini. Artinya, melayani ditujukan untuk membuat orang yang dipimpin dengan sukarela mengikuti kepemimpinan dari para manajer perusahaan tersebut.
Meskipun prinsip manajemen di atas menarik, dan sering diklaim berasal dari Yesus, tetapi bukan itu yang dimaksud Yesus. Ketika itu para murid mulai punya ambisi untuk menjadi yang terbesar. Dalam benak mereka, menjadi terbesar itu berarti memiliki posisi, dihormati, dan berkuasa. Yesus menegur mereka. Menjadi besar bagiYesus memiliki jalan yang berbeda. Menempatkan diri di posisi terendah, dilupakan orang, dan rela melepaskan kuasa adalah kebesaran yang benar.
Jadi, ketika Yesus mengajarkan kita menjadi pelayan, hal itu tidak tergantung dari hasil yang didapatkan. Bagi Yesus, menjadi pelayanbagi orang lain sudah merupakan sebuah kebesaran jiwa dan watak. Kalau itu membuat orang lain bisa dipimpin dengan sukarela, maka tentu itu sesuatu yang baik. Namun, seandainya orang lain menolak dan menertawakan sikap melayani kita, kebesaran melayani itu tidak menjadi hilang. Menjadi pelayan itu sendiri adalah sebuah kebesaran. Di ikuti atau tidak diikuti bukanlah ukuran dari sebuah kebesaran -DBS
SESEORANG YANG MENEMPATKAN DIRI SEBAGAI PELAYAN
ADALAH SEORANG YANG BERJIWA BESAR
Sabtu, 11 Juli 2009
NRIMA ING PANDUM
Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud (1Samuel 18:9).
Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa selain rendahnya tingkat stres dan tingginya konsumsi serat melalui buah-buahan dan sayuran, juga karena budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum, yang artinya menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.
Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran seseorang. Seperti yang terjadi pada Saul. Sebetulnya, Saul tidak kurang gagah. Ia berhasil memimpin bangsa Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan (1Samuel 14:47-48). Namun sayangnya, ia kemudian iri hati terhadap keberhasilan Daud. Apalagi ketika Daud disambut dengan pujian dan tarian yang meriah (ayat 6). Saul lalu menjadi marah. "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya," begitu ia berkata (ayat 8). Akhir dari kisah ini kita semua tahu, Saul mati di tangan bangsa Filistin (1Samuel 31:1-13), dan Daud menjadi raja menggantikannya.
Kiranya kepada kita diberikan kemampuan untuk bisa menerima apa yang ada, bersyukur dengan yang kita punya. Dan, kita dijauhkan dari iri dengki terhadap orang lain, juga dari keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita -AYA
Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa selain rendahnya tingkat stres dan tingginya konsumsi serat melalui buah-buahan dan sayuran, juga karena budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum, yang artinya menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.
Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran seseorang. Seperti yang terjadi pada Saul. Sebetulnya, Saul tidak kurang gagah. Ia berhasil memimpin bangsa Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan (1Samuel 14:47-48). Namun sayangnya, ia kemudian iri hati terhadap keberhasilan Daud. Apalagi ketika Daud disambut dengan pujian dan tarian yang meriah (ayat 6). Saul lalu menjadi marah. "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya," begitu ia berkata (ayat 8). Akhir dari kisah ini kita semua tahu, Saul mati di tangan bangsa Filistin (1Samuel 31:1-13), dan Daud menjadi raja menggantikannya.
Kiranya kepada kita diberikan kemampuan untuk bisa menerima apa yang ada, bersyukur dengan yang kita punya. Dan, kita dijauhkan dari iri dengki terhadap orang lain, juga dari keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita -AYA
RESEP HIDUP SEHAT :
TERIMA APA YANG ADA, JAUHI IRI DENGKI
Dikutip dari : www.sabda.org
MENGUBAH TAWA
Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki (Kejadian 18:14).
Ada banyak jenis tawa. Tawa terbahak-bahak, tawa nyengir, tawa kecil, tawa sinis. Berbagai jenis tawa ini muncul karena sebab yang berbeda.
Firman Tuhan hari ini menyebutkan Sara yang tertawa di dalam hati. Dan, tawa ini "terdengar" oleh Tuhan. Agaknya, tawa Sara adalah tawa sinis; tawa yang tawar. Bukan tawa sukacita, tetapi tawa yang mempertanyakan; meragukan apa yang ia dengar. Sebetulnya, tawa sinis dan tawar dari Sara itu cukup masuk akal. Sebab ia mendengar bahwa ia akan mempunyai anak lelaki, padahal ia telah tua dan menopause. Umur Abraham 100 tahun dan Sara 90 tahun (Kejadian 17:17). Tentu sulit dipahami jika nenek setua Sara dan kakek setua Abraham masih dapat menghasilkan keturunan.
Namun Tuhan berkata, "Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki" (ayat 10). Pernyataan ini diulang dua kali (ayat 14). Tuhan tahu sabda-Nya terdengar janggal. Namun yang Dia kehendaki adalah agar Abraham dan Sara membuka hatibahwa apa yang tak masuk akal bagi mereka bukan hal mustahil bagi Allah. Jadi, kisah ini tak menganjurkan kita berandai-andai pada apa yang tidak mungkin, melainkan agar kita tidak ragu Tuhan bisa berkarya melampaui akal manusiawi.
Seperti Sara, mungkin kita pernah menertawakan secara sinis dan tawar jalan-jalan Tuhan bagi kita. Mari buka hati, buka telinga, lihat, rasakan, dan dengar karya Tuhan melalui sekeliling, sehingga tawa sinis dan tawar kita berubah menjadi tawa kekaguman dan sukacita! -DKL
Ada banyak jenis tawa. Tawa terbahak-bahak, tawa nyengir, tawa kecil, tawa sinis. Berbagai jenis tawa ini muncul karena sebab yang berbeda.
Firman Tuhan hari ini menyebutkan Sara yang tertawa di dalam hati. Dan, tawa ini "terdengar" oleh Tuhan. Agaknya, tawa Sara adalah tawa sinis; tawa yang tawar. Bukan tawa sukacita, tetapi tawa yang mempertanyakan; meragukan apa yang ia dengar. Sebetulnya, tawa sinis dan tawar dari Sara itu cukup masuk akal. Sebab ia mendengar bahwa ia akan mempunyai anak lelaki, padahal ia telah tua dan menopause. Umur Abraham 100 tahun dan Sara 90 tahun (Kejadian 17:17). Tentu sulit dipahami jika nenek setua Sara dan kakek setua Abraham masih dapat menghasilkan keturunan.
Namun Tuhan berkata, "Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki" (ayat 10). Pernyataan ini diulang dua kali (ayat 14). Tuhan tahu sabda-Nya terdengar janggal. Namun yang Dia kehendaki adalah agar Abraham dan Sara membuka hatibahwa apa yang tak masuk akal bagi mereka bukan hal mustahil bagi Allah. Jadi, kisah ini tak menganjurkan kita berandai-andai pada apa yang tidak mungkin, melainkan agar kita tidak ragu Tuhan bisa berkarya melampaui akal manusiawi.
Seperti Sara, mungkin kita pernah menertawakan secara sinis dan tawar jalan-jalan Tuhan bagi kita. Mari buka hati, buka telinga, lihat, rasakan, dan dengar karya Tuhan melalui sekeliling, sehingga tawa sinis dan tawar kita berubah menjadi tawa kekaguman dan sukacita! -DKL
TERTAWA KARENA IMAN ADALAH SUMBER KEKUATAN
Dikutip dari : www.sabda.org
KEKUDUSAN GEREJA
Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? (Hagai 2:4).
Kekristenan memang tidak mengultuskan gedung gereja dan segala barang yang ada di dalamnya. Sebab semuanya itu bukan azimat atau benda keramat, melainkan benda mati biasa yang bisa rusak dan hancur, tidak punya kekuatan apa pun. Walaupun demikian, bukan berarti kita bisa bersikap sembarangan dan tidak perlu menjaganya, karena gereja adalah tempat kita beribadah kepada Tuhan.
Hal itu jugalah yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel ketika mengizinkan Hagai membangun Bait Suci. Tuhan meminta agar pembangunan tersebut dijauhkan dari hal-hal najis, termasuk segala persembahan bagi pembangunan Bait Suci tersebut. Bait Suci memang hanyalah sebuah bangunan yang dapat dihancurkan, tetapi itu tidak membuat Allah membiarkan bangsa Israel membangunnya secara sembarangan. Allah menghendaki agar pembangunan Bait Suci dijalankan dengan kekudusan. Sebab Bait Suci adalah lambang kehadiran, kemuliaan, dan kekudusan Allah.
Allah mau agar kita pun menjaga kebersihan dan kekudusan gereja. Banyak hal yang sebenarnya dapat kita perbuat, bahkan dari halhal kecil. Misalnya menjaga kebersihan kamar mandi, tempat parkir, atau ruang ibadah, tidak membuang bungkus permen atau ludah sembarangan, tidak makan dan minum di ruang ibadah. Kita dapat juga menjaga dan merawat barang-barang yang ada di gereja seperti mimbar, kursi, dan alat-alat musik. Mari kita buat gedung gereja dan segala perlengkapannya bersih dan asri, bukan hanya supaya enak dipandang, melainkan juga agar lambang kekudusan-Nya tetap tampak -RY
JAGALAH KEKUDUSAN RUMAH TUHAN
DENGAN BERSIKAP DAN BERTINDAK KUDUS
Dikutip dari : www.sabda.org
MALAIKAT PENOLONG
Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu ... (Kisah Para Rasul 3:6).
Seorang mahasiswa sakit gigi. Dokter berkata gigi belakangnya harus dicabut lewat operasi bedah mulut. Gigi lainnya juga banyak yang berlubang. Perlu perawatan intensif, tetapi mahasiswa itu tidak punya cukup uang! Sang dokter kristiani memandangnya, lalu berkata: "Jangan khawatir. Kamu urusi saja semua kuliahmu, biarkan saya mengurusi gigimu. Nanti sesudah lulus dan bekerja, baru kamu bayar biaya perawatannya." Sang mahasiswa terharu. Baginya, dokter itu adalah malaikat penolong. Seorang yang Tuhan kirim untuk menolongnya di masa sulit.
Petrus dan Yohanes adalah "malaikat penolong" bagi orang lumpuh yang duduk di depan Bait Allah. Tiap hari ia duduk dekat pintu Gerbang Indah, tetapi hidupnya tidak indah. Kelumpuhan sejak lahir membuatnya bergantung pada belas kasihan orang lain. Suatu hari, Petrus dan Yohanes berpapasan dengannya saat akan memasuki Bait Allah. Pada momen itu, Petrus sadar bahwa Allah menginginkannya berbuat sesuatu bagi si lumpuh. Maka, ia menawarkan kesembuhan dalam nama Tuhan Yesus. Si lumpuh percaya. Mukjizat pun terjadi. Dia berdiri, berjalan, bahkan melompat-lompat! Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu mengubah seluruh jalan hidupnya!
Tuhan ingin memakai Anda menjadi malaikat penolong bagi orang yang berpapasan dengan Anda di jalan hidup Anda. Kita harus peka. Jika melihat orang perlu pertolongan atau perhatian, lakukanlah sesuatu. Berikanlah apa yang Anda punya. Bantuan. Pelukan. Ucapan yang mengobarkan semangat. Berita Injil. Sayang jika momen itu lewat dengan sia-sia. -JTI
JANGAN BIARKAN HARI BERLALU
TANPA MENYENTUH HIDUP ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA
Dikutip dari : www.sabda.org
MELAYANI TUHAN
Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya (Matius 10:42).
Suatu kali gereja kami mengundang seorang pendeta untuk menyampaikan firman Tuhan dan bersaksi mengenai pelayanan yang telah ia lakukan dalam dua puluh tahun terakhir. Saya sangat terkesan dengannya ; penampilannya sederhana. Ia berkhotbah tanpa jas dan dasi. Khotbahnya pun sederhana, tetapi pesannya sangat jelas. Namun, yang lebih membuat saya terkesan adalah hatinya. Ia memiliki hati untuk melayani orang-orang yang terpinggirkan; seperti anak-anak jalanan, anak-anak pedesaan, bahkan sampai kepada tahanan-tahanan. Dan, dari hatinya muncul keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, karena sesuai dengan perintah Allah.
Jika kita membandingkan keyakinan pendeta tersebut dengan ayat yang kita baca hari ini, memang benar demikian adanya. Tuhan sebenarnya memberikan sebuah tatanan pelayanan yang benar. Jika kita ingin melayani Tuhan, kita tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler. Kita dapat memulainya dari hal sederhana: "memberikan secangkir air sejuk" bagi orang-orang yang terpinggirkan dan berkekurangan-"yang kecil ini". Meski itu berarti juga berani keluar dari zona nyaman,untuk melayani yang kurang terlayani.
Entah sudah berapa lama konsep melayani Tuhan yang kita miliki hanya terbatas di dalam tembok gereja. Tentu apa yang kita lakukan digereja selama ini tidaklah salah, tetapi dengan mengingat apa yang disampaikan Tuhan Yesus kepada kita, seharusnya kita juga memikirkan hal-hal di luar tembok gereja, terutama untuk melayani kaum yang Alkitab sebut sebagai "yang kecil". Sudah saatnya kita melakukan kebenaran firman Tuhan ini --RY
LAYANI TUHAN SEPERTI YANG TUHAN MAU
Dikutip dari : www.sabda.org
Langganan:
Postingan (Atom)


