Jadilah yang terbaik untuk Tuhan!

Kasih Itu Lemah Lembut & Murah Hati

Kasih Itu Memaafkan & Mengampuni

Berikan yang terbaik untuk Tuhan

Bapa Mengasihimu

Minggu, 20 September 2009

MENARUH HORMAT

Kami minta ... supaya kamu menghormati mereka yang bekerja
keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan
menegur kamu (1Tesalonika 5:12)


Menurut H.B. London, tokoh "Focus on the Family", kehidupan para
hamba Tuhan diwarnai empat hal: kesepian, rasa terisolasi, rasa tidak
aman, dan rasa tidak mampu. Penyebabnya, mereka dituntut banyak,
tetapi dihargai terlalu sedikit. Mereka harus terlihat "tanpa dosa".
Sedikit berbuat kesalahan membuatnya jadi bahan omongan. Sebaliknya,
kerja keras dan pengorbanannya kerap dianggap biasa. Sudah lumrah.
"Miskinnya pujian dan penghargaan membuat 80% pendeta pernah berpikir
pindah dari gerejanya," ujar Jane Rubietta, penulis buku Bagaimana
Memperhatikan Pendeta yang Anda Kasihi.

Rasul Paulus mengajak jemaat Tesalonika menghormati para pemimpin
yang telah berjerih payah membimbing mereka mengenal Kristus. Para
pemimpin itu tidak selalu tampil simpatik. Kadang mereka harus
menegur jemaat yang hidup tidak tertib (ayat 12,14). Sebuah teguran
bisa menyakitkan. Membuka aib. Yang ditegur bisa terpancing untuk
balas melukai hati pemimpinnya. Paulus melarang sikap itu. Ia meminta
jemaat terus mendukung pemimpin mereka dalam kasih dan damai (ayat
13). Jemaat diminta menaruh hormat bukan karena pribadi sang
pemimpin, melainkan karena mereka melakukan pekerjaan yang Tuhan
percayakan kepadanya.

Sudahkah Anda menaruh hormat pada mereka yang telah memimpin Anda
mengenal Kristus? Mungkin mereka adalah para hamba Tuhan, sahabat
rohani, orangtua, atau pembimbing rohani Anda. Bagaimana Anda bisa
menunjukkan rasa respek dan dukungan secara nyata? Mana yang lebih
sering Anda lakukan: menghargai atau mencela mereka? -JTI

PARA HAMBA TUHAN BUKAN MANUSIA TANPA KESALAHAN
MEREKA ORANG KRISTIANI YANG TENGAH BERJUANG MELAYANI TUHAN











Dikutip dari : www.sabda.org

MATA GANTI MATA

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang
berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi
kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:39)


Pak Bono, seorang guru desa, tengah berbicara kepada orang banyak.
Tiba-tiba seorang pemuda melemparkan kentang tepat mengenai
kepalanya. Orang-orang terdiam menahan napas. Pak Bono memungut
kentang itu dan beranjak pergi. Beberapa bulan kemudian, ia
mengunjungi rumah pemuda itu. Setelah mengetuk pintu, Pak Bono
menyodorkan sebuah karung sambil berkata, "Beberapa waktu lalu Anda
melemparkan kentang. Saya memungutnya dan menanamnya. Saya kemari
ingin berterima kasih dan membagi hasil panennya dengan Anda."

Bacaan Alkitab hari ini adalah bagian dari Khotbah di Bukit. Di sana
Tuhan Yesus mengutip salah satu hukum tertua di dunia: "mata ganti
mata, gigi ganti gigi". Hukum pembalasan tersebut, atau Lex Talionis,
terdapat dalam kitab hukum Hammurabi, Raja Babel pada tahun 2285-2242
SM. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sama sekali berbeda,
yaitu Anti-Lex Talionis.

Ungkapan "berilah pipi kiri kepada orang yang menampar pipi kanan"
adalah sebuah kiasan. Maknanya, Tuhan Yesus menginginkan para
pengikut-Nya menghindari sikap "mata ganti mata"; tetapi membalas
kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih, sumpah serapah
dengan berkat. Balas dendam hanya akan memicu hal-hal buruk lainnya.
Seumpama mata rantai, keburukan harus "diputus" dengan kebaikan.

Maka, baiklah kita membuang jauh-jauh niat menuntut balas kepada
orang yang menyakiti kita. Sebaliknya, tetap upayakan kebaikan
untuknya. Seperti yang dilakukan Pak Bono dalam cerita di atas. Sikap
ini jauh lebih mendatangkan berkat dan sukacita -AYA

AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA ITU TINDAKAN PENGECUT
AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU ITU TINDAKAN KRISTIANI








Dikutip dari : sabda.org

BELAJAR UNTUK PERCAYA

Tetapi Aku bersukacita, Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab
demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya. Marilah
kita pergi sekarang kepadanya (Yohanes 11:15)


Mungkin kita kerap bertanya, jika Tuhan mengasihi saya, mengapa Dia
mengizinkan hal yang buruk terjadi? Hal ini juga pernah saya
pertanyakan ketika dokter mengatakan mama sakit kanker stadium tiga.
Kaki saya terasa lemas dan pikiran saya begitu kacau. Padahal saya
sudah berdoa puasa beberapa bulan untuk kesembuhan mama. Padahal baru
saja papa dan mama menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat
beberapa hari yang lalu. Namun, mengapa kenyataan ini harus kami
hadapi? Sungguhkah Yesus mengasihi kami?

Alkitab mencatat bahwa Yesus mengasihi Lazarus (ayat 3). Namun,
mengapa ketika Tuhan Yesus mendengar bahwa Lazarus sedang sakit, Dia
tidak segera datang ke Betania untuk menyembuhkannya? Sebaliknya,
Tuhan Yesus justru menunda kedatangannya dan membiarkan Lazarus mati.
Apakah Yesus sungguh-sungguh mengasihi Lazarus, Maria, dan Marta? Ya,
Tuhan sangat mengasihi mereka, tetapi Tuhan juga punya maksud dan
rencana yang kerap kali tidak kita mengerti, sehingga membiarkan
semua itu terjadi.

Terkadang Tuhan membiarkan kita masuk ke dalam lembah kekelaman.
Terkadang juga Tuhan membiarkan "seolah-olah" kita ditinggal
sendirian. Namun, pada saat-saat seperti itulah sesungguhnya iman
kita sedang diuji. Tuhan membiarkan kita mengalami masa-masa gelap
dengan satu tujuan, yaitu agar kita belajar untuk percaya (ayat 15).
Saat masa-masa gelap itu datang, maukah kita belajar percaya bahwa
Tuhan tetap berdaulat dan mempunyai rencana indah di balik semua
masalah yang sedang kita hadapi? -VT

DISAAT KITA TIDAK MENGERTI MENGAPA SEMUA HARUS TERJADI

MARILAH KITA BELAJAR UNTUK TETAP PERCAYA PADA KEBAIKAN HATI TUHAN










Dikutip dari : sabda.org

MELANGKAH DARI MASA LALU

Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada
zaman sekarang?" (Pengkhotbah 7:10)


Kehidupan kita seperti roda yang selalu berputar; selalu maju. Masa
lalu tidak dapat diulang lagi. Namun begitu, kita kerap membandingkan
keadaan yang terjadi di setiap masa. Misalnya, seingat saya, pada
1990-an, harga gula pasir sekitar Rp900,00/kg. Kini, harganya hampir
sepuluh kali lipat! Maka, tidak heran jika ada orang yang berharap
untuk kembali ke masa lalu, ketika harga lebih murah, pemikiran lebih
sederhana, dan tuntutan hidup yang memicu stres tidak setinggi saat
ini.

Pengalaman ingin kembali ke masa lalu juga pernah dialami bangsa
Israel ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Di depan mereka
terhampar Laut Teberau. Di belakang mereka pasukan Mesir mengejar.
Dalam situasi itu, orang Israel berkata kepada Musa, "Lebih baik bagi
kami untuk bekerja pada orang Mesir daripada mati di padang gurun
ini" (ayat 12). Mereka ingin kembali, padahal Tuhan membebaskan
mereka untuk mengalami hal yang lebih indah di depan! Perjalanan
keluar dari Mesir juga dipakai Tuhan untuk menuntun Israel selangkah
lebih dekat pada penggenapan rencana-Nya: masuk tanah perjanjian.
Namun, orang Israel sudah terbuai kenyamanan di Mesir sebagai budak.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga berpikir seperti bangsa
Israel yang memilih tinggal di masa lalu karena "nyaman"? Tuhan
menuntun Israel keluar dari Mesir untuk mengajarkan hal baru yang
berharga. Demikian juga Dia menuntun kita melangkah maju setiap hari,
untuk mengalami kuasa-Nya yang luar biasa. Jangan kecut dan tawar
hati, sebab walau tantangan hidup bertambah, penyataan kuasa Tuhan
juga semakin bertambah. Maka, nikmatilah hidup yang Tuhan hadirkan
setiap hari. Dan majulah bersama Tuhan! -HA

MASA LALU DIBERIKAN TUHAN MENJADI PELAJARAN BERHARGA
BUKAN SEBAGAI BAYANG-BAYANG MENYESAKKAN BAGI HIDUP MASA KINI










Dikutip dari : www.sabda.org

BERPAKAIAN YANG PANTAS

Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika
Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?
(Maleakhi 1:6)



Pak Tirta diundang Pak Bupati berkunjung ke rumahnya. Tentu saja ia
sangat antusias. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri;
mencukur rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia
tidak mau berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati
menganggap ia tidak menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan
berkunjung ke rumah seseorang yang kita hormati, kita akan berusaha
tampil "prima", tidak asal-asalan.

Alangkah baiknya kalau "prinsip" demikian diberlakukan juga ketika
kita beribadah di gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian
baru, tetapi setidaknya berusahalah tampil baik. Minimal rapih dan
bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang datang ke gereja dengan
berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke
pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian.
Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya
merupakan cerminan yang ada di dalam hati.

Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi Maleakhi. Mereka telah
mempersembahkan korban secara sembarangan dan asal-asalan (ayat 7,8).
Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari
persembahan itu. Namun, ternyata tindakan mereka mengundang murka
Tuhan, sebab mereka telah menunjukkan sikap tidak hormat dan
menghargai Tuhan, Sang Raja di atas segala raja (ayat 14). Hal ini
bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan datang ke rumah
Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas dan
sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus -AYA

PENAMPILAN YANG PANTAS TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL
CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN








Dikutip dari : www.sabda.org

PENERIMAAN

Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan
pendapatnya (Roma 14:1)



Mirna dan Jack hidup dalam obat bius, pesta-pora, dan kumpul kebo.
Mirna mengira orangtua Jack pasti sangat membencinya. Ia keliru. Pada
malam Natal, mereka berdua diundang makan bersama keluarga Jack.
Mirna memakai kostum ala penyanyi rock dengan tato di tangan, tetapi
orangtua Jack tetap bersikap ramah. Ibu Jack sering menelepon sesudah
itu. Memberinya nasihat rohani. Mulanya Mirna mencibir. Suatu hari
kecanduannya makin parah. Mirna merasa sangat ketakutan, lalu
menelepon si ibu. Orangtua Jack datang bersama pendeta, mendoakan dan
memeluknya. Ia terharu sekali karena merasa diterima. Sejak itu Mirna
dan Jack menerima Kristus.


Dalam pergaulan sehari-hari, kerap kita jumpai orang yang imannya
lemah. Ada yang masih percaya takhayul, gaya hidupnya duniawi, atau
terikat dosa tertentu. Banyak pula yang belum beriman, bahkan mencela
Kristus. Bagaimana sikap kita? Menghakimi dan menjauhi mereka? Rasul
Paulus menantang kita untuk menerima mereka apa adanya (ayat 7),
sebagaimana Kristus telah menerima kita. Menerima bukan berarti
menyetujui perbuatan dosanya, melainkan "menanggung kelemahannya"
(ayat 15). Artinya, berusaha menanggung rasa tidak nyaman ketika
menghadapi kelemahannya, sambil berdoa dan berusaha membangun
imannya.


Menerima orang seperti Mirna tidaklah mudah. Lebih gampang
meninggalkan orang bermasalah seperti dia, lalu bergaul dengan kawan
seiman yang lebih menyenangkan. Di sini dibutuhkan penyangkalan diri,
kesabaran, dan kerendahan hati. Namun, percayalah: penerimaan Anda
akan menyentuh hidup mereka! -JTI

SEBUAH PENERIMAAN YANG TULUS
MEMBUAT JALAN MENUJU TUHAN MENJADI MULUS









Dikutip dari : www.sabda.org

Rabu, 09 September 2009

Mitra Sejajar

Jawab Barak kepada Debora: "Jika engkau turut maju aku pun
maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju"
(Hakim-hakim 4:8).



Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun, ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling
wanita." Demikian petikan syair lagu lama berjudul Sabda Alam,
ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan "wanita dijajah pria" dan "pria
tekuk lutut di sudut kerling wanita", menggambarkan seolah-olah pria
dan wanita berhadapan sebagai lawan. Namun, harus diakui bahwa
penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi dalam kenyataan. Pria
dan wanita tidak berdampingan sebagai mitra, tetapi sebagai pesaing;
tidak saling mendukung, tetapi saling menundukkan; tidak saling
melengkapi, tetapi saling mempreteli.

Hal ini jelas tidak sesuai dengan rencana Allah ketika menciptakan
pria dan wanita. Di dalam Kejadian 1:27 dikatakan, "Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."
Artinya, baik pria maupun wanita sama-sama segambar dengan Allah;
keduanya sama penting di hadapan Allah. Sederajat. Sepadan.

Debora dan Barak memberi contoh yang sangat baik tentang makna
kemitraan pria dan wanita. Mereka bahu-membahu memimpin umat Israel
mengalahkan musuhnya. Kuncinya adalah merendahkan hati untuk
menyadari dan mengakui, bahwa masing-masing, pria dan wanita, saling
membutuhkan. Pria tidak lengkap tanpa wanita, wanita tidak lengkap
tanpa pria. Begitu juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama
pentingnya. Kalau suami itu "kepala" keluarga, istri adalah "leher"
keluarga. Dengan kesadaran dan pengakuan demikian, pria dan wanita
bisa membangun relasi berdasarkan saling menghargai dan menghormati
-AYA

KEMITRAAN PRIA DAN WANITA AKAN TERJALIN BAIK
KALAU MASING-MASING PUNYA RASA RESPEK DAN HORMAT











Dikutip dari : www.sabda.org

JANGAN LUPA DIRI

Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi
dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah
(Lukas 12:21).



C.S. Lewis, dalam bukunya yang berjudul The Screwtape Letters,
mengungkapkan, "Kesuksesan dan kemakmuran mengikat manusia kepada
dunia. Manusia merasa mengejar kesuksesan dan kemakmuran sebagai
suatu proses dalam hidup untuk menemukan tempatnya di dalam dunia.
Padahal sebenarnya dunialah yang sedang mencuri tempat di dalam
hatinya."


Di dunia ini, kesuksesan dan kemakmuran seseorang umumnya diukur
dengan kemapanan pekerjaan dan besar kecilnya penghasilan. Untuk
mencapai hal-hal itu, acap kali kita sudah berencana sejak kecil,
dengan belajar rajin dan bekerja keras agar dapat masuk ke sekolah
unggulan, universitas favorit, dan akhirnya perusahaan yang
bergengsi. Ditambah dengan persaingan yang semakin hari semakin
ketat, kita pun belajar lebih rajin lagi dengan mengikuti les ini dan
les itu-tiada habisnya, memacu diri dengan bekerja lembur, menghadiri
malam-malam networking guna mencari peluang bisnis, dan sebagainya.


Pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang besar tentu bukan sesuatu
yang buruk. Akan tetapi, kita harus sangat berhati-hati saat berusaha
mencapai prestasi dan penghasilan yang mapan. Jangan biarkan diri
kita menjadi sangat terikat pada hal-hal tersebut, sebab keberadaan
kita di dunia hanya sementara waktu. Seperti kisah orang kaya yang
bodoh dalam firman Tuhan hari ini. Pemazmur mengatakan usia manusia
mungkin tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun. Jadi,
kita tak boleh berusaha terlalu keras atau merasa terlalu nyaman di
dunia sampai melupakan kehidupan kekal -MDH

JANGAN MELEKATKAN HATI KEPADA HARTA KEKAYAAN













Dikutip dari : www.sabda.org

WAKTU BERSAMA ALLAH

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab
      kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh
      sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan
      keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26).



Apabila kita berada di puncak gunung, kita bisa melihat pemandangan
yang luar biasa indah. Cakrawala terbentang. Sejauh mata memandang,
alam semesta begitu indah hingga ke kaki langit. Matahari yang
merekah. Awan yang berarak. Pepohonan yang hijau. Sawah ladang yang
menguning. Aliran sungai yang meliuk dengan riaknya yang indah. Tak
ada yang menghalangi pandangan mata kita. Namun, sangat berbeda kalau
kita ada pada jarak dekat. Yang tampak adalah banyaknya semak
belukar, pepohonan yang tak semua hijau, bahkan penuh ranting dan
duri.


Serupa dengan itu, kita juga akan melihat hal yang luar biasa indah
jika kita berada di tempat yang tinggi. Yakni apabila kita meletakkan
hati kita di tempat Allah berada. Hanya dengan demikian, kita dapat
 tampak indah. Kita tidak akan kekurangan bahan untuk mengucap
syukur. Dan, tidak terlalu sulit untuk mencapainya, hanya sejauh doa
kita. Dengan memiliki relasi pribadi yang erat dengan Tuhan. Jika
kita merasa lelah, beban begitu berat, berbagai persoalan menimpa,
hingga hidup begitu hampa, datanglah kepada-Nya.


Terkadang lidah kita terasa kelu untuk mengungkapkan semua beban
hidup ini. Ingatlah bahwa Allah Roh Kudus bersama kita. Dialah yang
akan menolong kita untuk berdoa, sekalipun kerap kali kita tidak tahu
apa yang harus kita ucapkan. Roh Kudus akan membawa kita ke hadirat
Allah Yang Mahatinggi, dan menolong kita melihat semua hal yang ada
dalam hidup kita, dari tempat Allah melihatnya. Di dalam doa, Dia
menolong kita melihat indahnya lika-liku hidup kita bersama Allah
-SSTmelihat segala yang terjadi dalam kacamata Allah. Maka, segalanya
akan

           DI TEMPAT ALLAH MELIHAT, KITA MENDAPATI BAHWA
               JIKA KITA BERSAMA-NYA, ITU SUDAH CUKUP!







Dikutip dari : www.sabda.org

Selasa, 08 September 2009

FIGUR BAPA

Dan kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam
      hati anak-anakmu (Efesus 6:4).



Salah satu penyebab terbesar rusaknya generasi ini adalah karena
mereka tidak mendapatkan figur bapa. Jika figur bapa dipulihkan, maka
generasi ini juga akan mengalami pemulihan. Dalam buku Father's
Connection karya Josh McDowell, ada sebuah data yang sangat menarik.


Pertama, Dr. Loren Moshen menemukan bahwa sebagian besar pelanggaran
hukum yang dilakukan remaja dan pemuda sebenarnya bukan karena
kemiskinan, tetapi karena ketidakhadiran ayah. Mereka tidak memiliki
figur bapa. Kedua, 60% gadis remaja yang dibesarkan tanpa ayah,
cenderung melakukan hubungan seks sebelum menikah. Ketiga, hampir
sebagian besar hidup manusia dipengaruhi oleh orangtua. Jika
dibesarkan dengan kecaman, anak jadi suka mencela. Jika dibesarkan
dalam permusuhan, anak jadi suka bertengkar. Jika orangtua tak pernah
mendukung, anak jadi minder dan tak 
percaya diri. Dan sebagainya.


Jika anak kita bertumbuh menjadi anak yang nakal, suka memberontak,
bahkan melakukan tindakan-tindakan kriminal, yang pertama kali mesti
dikoreksi bukanlah mereka, melainkan kita. Terlebih dulu kita perlu
menjawab pertanyaan ini, "Apakah kita sudah menjadi figur bapa yang
baik bagi mereka?"


Mungkin selama ini kita frustrasi mengubah sikap anak kita yang
buruk. Sampai-sampai kita merasa gagal mendidik mereka. Kini, izinkan
Roh Kudus membuka mata rohani kita, sehingga kita bisa lebih dulu
berkomitmen untuk berubah. Agar kita dapat menjadi orangtua yang tak
hanya berteori, tetapi memberi teladan hidup yang baik. Orangtua yang
bijak dan punya integritas. Orangtua yang mampu membuat hati
anak-anak bangga memiliki kita.


KETIKA FIGUR BAPA DALAM DIRI KITA DIPULIHKAN
            ANAK-ANAK KITA JUGA PASTI MENGALAMI PEMULIHAN!







Dikutip dari : wwww.sabda.org

TUGAS KITA

Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi,
      sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang
      mengasihi, lahir dari Allah dan 
mengenal Allah (1Yohanes 4:7).



Pada 24 November 1974, John Stott, seorang pendeta senior dari
Inggris, yang oleh 
Majalah Times dimasukkan ke dalam daftar 100 tokoh
berpengaruh di dunia, mengakhiri khotbahnya dengan bercerita tentang
gereja yang diimpikannya. Salah satunya adalah: gereja yang
memelihara, yang anggotanya beragam latar belakang, memiliki
persekutuan yang hangat dan terhindar dari pementingan diri sendiri,
yang anggotanya saling mengasihi dengan tulus, dan juga yang mau
membantu orang lain.


Sebuah mimpi yang indah dan penting. Sebab itulah salah satu tugas
gereja, yaitu menjadi "wadah" para warganya untuk bertumbuh dalam
iman, dan berbuah dalam sikap hidup sehari-hari, sehingga dunia dapat
merasakan nilai kehadirannya. Masalahnya, kita kerap menganggap itu
hanyalah tugas gereja sebagai institusi, dan bukan tugas kita secara
pribadi. Padahal gereja adalah orang-orangnya. Kita. Anda dan saya.
Orang-orang yang dipanggil dari kegelapan dan diselamatkan oleh
Kristus.


Biarlah orang lain "melihat" Allah melalui gerejanya. Melalui kita.
Caranya, dengan memiliki sikap hidup saling mengasihi (ayat 7). Tidak
masalah jika kita hidup dalam keragaman dan perbedaan-suku, bahasa,
budaya, talenta, status sosial-kita tetap bisa terekat dalam
kebersamaan; kehangatan persekutuan dan ketulusan untuk saling
peduli. Tidak menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain.
Sebaliknya selalu merasa tidak sempurna tanpa orang lain. Ya, adalah
tugas kita untuk membuat orang lain dapat melihat dan merasakan kasih
Allah; melalui sikap dan tutur kata kita -AYA

         

MENGATAKAN APA YANG KITA LAKUKAN, MEMANG PENTING
       NAMUN MELAKUKAN APA YANG KITA KATAKAN, ITU LEBIH PENTING








Dikutip dari : www.sabda.org

Family Ministry