Jadilah yang terbaik untuk Tuhan!

Kasih Itu Lemah Lembut & Murah Hati

Kasih Itu Memaafkan & Mengampuni

Berikan yang terbaik untuk Tuhan

Bapa Mengasihimu

Sabtu, 11 Juli 2009

NRIMA ING PANDUM

Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud (1Samuel 18:9).

Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa selain rendahnya tingkat stres dan tingginya konsumsi serat melalui buah-buahan dan sayuran, juga karena budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum, yang artinya menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.

Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran seseorang. Seperti yang terjadi pada Saul. Sebetulnya, Saul tidak kurang gagah. Ia berhasil memimpin bangsa Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan (1Samuel 14:47-48). Namun sayangnya, ia kemudian iri hati terhadap keberhasilan Daud. Apalagi ketika Daud disambut dengan pujian dan tarian yang meriah (ayat 6). Saul lalu menjadi marah. "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya," begitu ia berkata (ayat 8). Akhir dari kisah ini kita semua tahu, Saul mati di tangan bangsa Filistin (1Samuel 31:1-13), dan Daud menjadi raja menggantikannya.

Kiranya kepada kita diberikan kemampuan untuk bisa menerima apa yang ada, bersyukur dengan yang kita punya. Dan, kita dijauhkan dari iri dengki terhadap orang lain, juga dari keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita -AYA

RESEP HIDUP SEHAT :
TERIMA APA YANG ADA, JAUHI IRI DENGKI
Dikutip dari : www.sabda.org

MENGUBAH TAWA

Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki (Kejadian 18:14).

Ada banyak jenis tawa. Tawa terbahak-bahak, tawa nyengir, tawa kecil, tawa sinis. Berbagai jenis tawa ini muncul karena sebab yang berbeda.

Firman Tuhan hari ini menyebutkan Sara yang tertawa di dalam hati. Dan, tawa ini "terdengar" oleh Tuhan. Agaknya, tawa Sara adalah tawa sinis; tawa yang tawar. Bukan tawa sukacita, tetapi tawa yang mempertanyakan; meragukan apa yang ia dengar. Sebetulnya, tawa sinis dan tawar dari Sara itu cukup masuk akal. Sebab ia mendengar bahwa ia akan mempunyai anak lelaki, padahal ia telah tua dan menopause. Umur Abraham 100 tahun dan Sara 90 tahun (Kejadian 17:17). Tentu sulit dipahami jika nenek setua Sara dan kakek setua Abraham masih dapat menghasilkan keturunan.

Namun Tuhan berkata, "Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki" (ayat 10). Pernyataan ini diulang dua kali (ayat 14). Tuhan tahu sabda-Nya terdengar janggal. Namun yang Dia kehendaki adalah agar Abraham dan Sara membuka hatibahwa apa yang tak masuk akal bagi mereka bukan hal mustahil bagi Allah. Jadi, kisah ini tak menganjurkan kita berandai-andai pada apa yang tidak mungkin, melainkan agar kita tidak ragu Tuhan bisa berkarya melampaui akal manusiawi.

Seperti Sara, mungkin kita pernah menertawakan secara sinis dan tawar jalan-jalan Tuhan bagi kita. Mari buka hati, buka telinga, lihat, rasakan, dan dengar karya Tuhan melalui sekeliling, sehingga tawa sinis dan tawar kita berubah menjadi tawa kekaguman dan sukacita! -DKL

TERTAWA KARENA IMAN ADALAH SUMBER KEKUATAN
Dikutip dari : www.sabda.org

KEKUDUSAN GEREJA

Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? (Hagai 2:4).
Kekristenan memang tidak mengultuskan gedung gereja dan segala barang yang ada di dalamnya. Sebab semuanya itu bukan azimat atau benda keramat, melainkan benda mati biasa yang bisa rusak dan hancur, tidak punya kekuatan apa pun. Walaupun demikian, bukan berarti kita bisa bersikap sembarangan dan tidak perlu menjaganya, karena gereja adalah tempat kita beribadah kepada Tuhan.
Hal itu jugalah yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel ketika mengizinkan Hagai membangun Bait Suci. Tuhan meminta agar pembangunan tersebut dijauhkan dari hal-hal najis, termasuk segala persembahan bagi pembangunan Bait Suci tersebut. Bait Suci memang hanyalah sebuah bangunan yang dapat dihancurkan, tetapi itu tidak membuat Allah membiarkan bangsa Israel membangunnya secara sembarangan. Allah menghendaki agar pembangunan Bait Suci dijalankan dengan kekudusan. Sebab Bait Suci adalah lambang kehadiran, kemuliaan, dan kekudusan Allah.
Allah mau agar kita pun menjaga kebersihan dan kekudusan gereja. Banyak hal yang sebenarnya dapat kita perbuat, bahkan dari halhal kecil. Misalnya menjaga kebersihan kamar mandi, tempat parkir, atau ruang ibadah, tidak membuang bungkus permen atau ludah sembarangan, tidak makan dan minum di ruang ibadah. Kita dapat juga menjaga dan merawat barang-barang yang ada di gereja seperti mimbar, kursi, dan alat-alat musik. Mari kita buat gedung gereja dan segala perlengkapannya bersih dan asri, bukan hanya supaya enak dipandang, melainkan juga agar lambang kekudusan-Nya tetap tampak -RY
JAGALAH KEKUDUSAN RUMAH TUHAN
DENGAN BERSIKAP DAN BERTINDAK KUDUS
Dikutip dari : www.sabda.org

MALAIKAT PENOLONG

Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu ... (Kisah Para Rasul 3:6).
Seorang mahasiswa sakit gigi. Dokter berkata gigi belakangnya harus dicabut lewat operasi bedah mulut. Gigi lainnya juga banyak yang berlubang. Perlu perawatan intensif, tetapi mahasiswa itu tidak punya cukup uang! Sang dokter kristiani memandangnya, lalu berkata: "Jangan khawatir. Kamu urusi saja semua kuliahmu, biarkan saya mengurusi gigimu. Nanti sesudah lulus dan bekerja, baru kamu bayar biaya perawatannya." Sang mahasiswa terharu. Baginya, dokter itu adalah malaikat penolong. Seorang yang Tuhan kirim untuk menolongnya di masa sulit.
Petrus dan Yohanes adalah "malaikat penolong" bagi orang lumpuh yang duduk di depan Bait Allah. Tiap hari ia duduk dekat pintu Gerbang Indah, tetapi hidupnya tidak indah. Kelumpuhan sejak lahir membuatnya bergantung pada belas kasihan orang lain. Suatu hari, Petrus dan Yohanes berpapasan dengannya saat akan memasuki Bait Allah. Pada momen itu, Petrus sadar bahwa Allah menginginkannya berbuat sesuatu bagi si lumpuh. Maka, ia menawarkan kesembuhan dalam nama Tuhan Yesus. Si lumpuh percaya. Mukjizat pun terjadi. Dia berdiri, berjalan, bahkan melompat-lompat! Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu mengubah seluruh jalan hidupnya!
Tuhan ingin memakai Anda menjadi malaikat penolong bagi orang yang berpapasan dengan Anda di jalan hidup Anda. Kita harus peka. Jika melihat orang perlu pertolongan atau perhatian, lakukanlah sesuatu. Berikanlah apa yang Anda punya. Bantuan. Pelukan. Ucapan yang mengobarkan semangat. Berita Injil. Sayang jika momen itu lewat dengan sia-sia. -JTI
JANGAN BIARKAN HARI BERLALU
TANPA MENYENTUH HIDUP ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA
Dikutip dari : www.sabda.org

MELAYANI TUHAN

Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya (Matius 10:42).
Suatu kali gereja kami mengundang seorang pendeta untuk menyampaikan firman Tuhan dan bersaksi mengenai pelayanan yang telah ia lakukan dalam dua puluh tahun terakhir. Saya sangat terkesan dengannya ; penampilannya sederhana. Ia berkhotbah tanpa jas dan dasi. Khotbahnya pun sederhana, tetapi pesannya sangat jelas. Namun, yang lebih membuat saya terkesan adalah hatinya. Ia memiliki hati untuk melayani orang-orang yang terpinggirkan; seperti anak-anak jalanan, anak-anak pedesaan, bahkan sampai kepada tahanan-tahanan. Dan, dari hatinya muncul keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, karena sesuai dengan perintah Allah.
Jika kita membandingkan keyakinan pendeta tersebut dengan ayat yang kita baca hari ini, memang benar demikian adanya. Tuhan sebenarnya memberikan sebuah tatanan pelayanan yang benar. Jika kita ingin melayani Tuhan, kita tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler. Kita dapat memulainya dari hal sederhana: "memberikan secangkir air sejuk" bagi orang-orang yang terpinggirkan dan berkekurangan-"yang kecil ini". Meski itu berarti juga berani keluar dari zona nyaman,untuk melayani yang kurang terlayani.
Entah sudah berapa lama konsep melayani Tuhan yang kita miliki hanya terbatas di dalam tembok gereja. Tentu apa yang kita lakukan digereja selama ini tidaklah salah, tetapi dengan mengingat apa yang disampaikan Tuhan Yesus kepada kita, seharusnya kita juga memikirkan hal-hal di luar tembok gereja, terutama untuk melayani kaum yang Alkitab sebut sebagai "yang kecil". Sudah saatnya kita melakukan kebenaran firman Tuhan ini --RY
LAYANI TUHAN SEPERTI YANG TUHAN MAU
Dikutip dari : www.sabda.org

Jumat, 10 Juli 2009

LEBIH BANYAK BERKAT LAGI

Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku" (1Raja 19:4)
Ada sebuah dongeng tentang seorang raja yang ingin menguji rakyatnya. Ia meletakkan sebuah batu besar di tengah jalan. Orang pertama yang lewat, menggerutu lalu berbalik dari jalan itu. Orang kedua, mengeluh dan memilih mengitari batu. Sedang orang ketiga, ia berpikir sebentar lalu menyingkirkan batu besar itu agar tidak menjadi penghalang. Hasilnya, bukan saja tidak ada lagi penghalang di jalan tersebut, tetapi ternyata Raja telah menyediakan hadiah besar bagi siapa saja yang menggulingkan batu tersebut. Inti cerita ini adalah setiap orang bisa memilih mundur, menghindari, ataupun menghadapi tantangan. Di setiap tantangan yang berhasil dihadapi, ada berkat-berkat tersembunyi yang menanti.
Suatu saat saya pernah bertanya, "Tuhan, kok 'batu-batu' yang Engkau tempatkan di jalan hidupku begitu banyak dan begitu berat?" Anda pun mungkin pernah menanyakan hal serupa. Setelah beberapa waktu berlalu, saya memperoleh jawabannya. "Ya, ada lebih banyak lagi berkat tersembunyi di balik begitu banyak batu ujian dalam kehidupan ini."
Dalam bacaan 1 Raja-raja 19, Elia mengeluh tentang permasalahan yang ia hadapi. Ia bahkan ingin mati saja daripada harus bertahan dalam cobaan itu. Allah sungguh mengerti keadaan Elia. Dia mengirim malaikatnya untuk menyediakan makanan dan minuman; bukan hanya agar Elia kenyang, tetapi agar ia kuat melanjutkan pergumulan dan karya Allah yang dinyatakan dalam hidupnya. Cobaan yang mendera bertubi-tubi mungkin membuat Elia dan kita ingin mati rasanya. Namun, ingatlah bahwa Tuhan menyediakan pertolongan dan berkat-berkat tersembunyi di balik semua itu -SL
SAAT KITA MENYERAH, TUHAN TIDAK MENYERAH
BERKAT-NYA MENANTI DI BALIK SETIAP UJIAN
Dikutip dari : www.sabda.org

BERTEMU DENGAN ALLAH

Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu (1Samuel 17:37)
Di mana Anda berharap bertemu dengan Allah? Kapan Anda berpikir Anda mungkin akan bertemu dengan-Nya? Biasanya kita berpikir akan bertemu dengan Allah di gereja. Atau, kita berpikir akan bertemu dengan-Nya ketika bersaat teduh di tempat yang khusyuk atau ketika sedang berdoa. Namun, hari itu Allah menjumpai saya di tempat yang tidak "biasa". Saya bertemu dengan-Nya di dapur. Di tengah aktivitas memotong sayuran dan bergelut dengan wajan penggorengan. Ketika itulah saya sadar, kita bisa mengenal Allah tidak hanya di gereja, tetapi di mana pun.
Apa yang membuat Daud berani menantang Goliat, raksasa Filistin yang tingginya 2,97 m dan membawa senjata seberat 56,7 kg? Daud berani karena ia sudah melewati banyak pertempuran bersama Tuhan selama ia melakukan tugasnya sebagai gembala domba (ayat 34-37). Daud mengalami kuasa dan penyertaan Tuhan selama ia bergelut dengan pekerjaannya sehari-hari yang dianggap remeh oleh banyak orang, termasuk oleh kakaknya (ayat 28). Daud bertemu dengan Tuhan bukan di rumah-rumah ibadah, tetapi di dalam keseharian dan kesunyian pekerjaannya. Imannya kepada Tuhan dibangun dari pengalaman sehari-hari. Iman itulah yang membuat Daud berani melawan Goliat dan keluar sebagai pemenang.
Tuhan pun rindu kita mengalami hal yang sama dengan Daud. Tuhan rindu kita mengenal Dia tidak hanya di gereja, tetapi juga lewat pengalaman kita sehari-hari. Tuhan rindu kita mengalami pertolongan-Nya dalam setiap permasalahan yang kita hadapi. Pilihannya ada pada kita: hari ini, maukah kita berjalan denganNya, bertanya kepada-Nya untuk setiap keputusan yang akan kita buat? -GS
ALLAH TIDAK HANYA INGIN BERTEMU KITA SEKALI SEMINGGU
DIA INGIN BERSAMA KITA SETIAP SAAT
Dikutip dari : www.sabda .org

STOP MENGELUH

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! (Filipi 4:4)
Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas-mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka-tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.
Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif -AYA
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN
PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR
Dikutip dari : www.sabda.org

Kamis, 09 Juli 2009

Bukan Sekedar Hasil

Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, daripada
penghasilan banyak tanpa keadilan (Amsal 16:8)


Di antara sekian banyak kejadian kontroversial di dunia tinju,

kejadian pada tanggal 28 Juni 1997 mungkin adalah yang paling diingat
orang. Ketika itu, Evander Holyfield berhadapan dengan Mike Tyson.
Itu adalah pertandingan ulang. Pada pertandingan pertama tanggal 9
November 1996, Holyfield menang TKO di ronde ke-11. Event yang
disebut-sebut sebagai pertarungan terdahsyat dalam sejarah tinju itu
ternyata berakhir memalukan. Pertandingan dihentikan di ronde ketiga
karena Tyson menggigit telinga Holyfield, sebuah tindakan yang sangat
tercela di ring tinju. Tyson dinyatakan kalah dan mendapat hukuman.



Mempunyai keinginan untuk mencapai atau meraih sesuatu tentunya tidak
salah. Jadi, sangatlah wajar jika seseorang itu berupaya keras untuk
mencapai cita-citanya, bekerja mati-matian untuk meraih sukses. Yang
jadi masalah adalah, kalau untuk mencapai keinginannya itu, orang
lalu menghalalkan segala cara; termasuk melakukan kecurangan dan
kekejian, tidak peduli norma dan melanggar hukum.



Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Raja Ahab yang menginginkan
kebun anggur Nabot. Nabot menolak karena kebun anggur itu pusaka
nenek moyangnya (ayat 3). Lalu atas saran Izebel, istrinya, Ahab
melakukan cara-cara keji untuk mencapai keinginannya itu (ayat 9-14).
Tindakan yang kemudian mendatangkan hukuman Tuhan atas Ahab dan
keluarganya (ayat 21). Hikmahnya, janganlah kita hanya terfokus pada
keinginan untuk meraih sesuatu. Perhatikan juga cara mencapainya.
Sebab segala sesuatu yang diraih dengan cara yang curang dan keji,
tidak akan menjadi berkat. Malah bisa mendatangkan laknat --AYA



HASIL MEMANG PENTING
TETAPI CARA MENCAPAI HASIL ITU JUGA PENTING



Dikutip dari : www.sabda.org

Family Ministry