Bagi kita yang terlibat dalam pelayanan musik atau pujian
penyembahan, marilah bersungguh-sungguh melayani Tuhan melalui
talenta yang Tuhan berikan. Sadarilah bahwa kita dapat menggunakan
musik rohani untuk menyampaikan kesaksian tentang Tuhan kepada orang
lain. Jika Iblis bisa memakai musik untuk merusak generasi muda,
kita harus melawannya dengan memakai musik yang menjangkau generasi
muda. Banyak orang bertobat dan percaya kepada Yesus setelah
mendengarkan lagu-lagu rohani. Jadi, menyanyilah untuk Tuhan . .
Jumat, 16 Oktober 2009
ANAK HILANG
Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
Senin, 05 Oktober 2009
KELELAHAN
Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi
sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini;
sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu (Keluaran 18:17-18)
Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk
minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya
memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat
itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh
Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda
bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah
istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat
kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara
seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani
ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat.
Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti
menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro
mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya
kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian
bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi
tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap
orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk
beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah
merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi
melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi
cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta
bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri! _JTI
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini;
sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu (Keluaran 18:17-18)
Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk
minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya
memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat
itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh
Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda
bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah
istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat
kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara
seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani
ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat.
Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti
menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro
mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya
kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian
bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi
tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap
orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk
beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah
merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi
melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi
cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta
bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri! _JTI
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
CINTA ITU TERUS HIDUP
Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada
lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih
seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti
nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8:6)
Carmen Ruiz Perez dari Spanyol, jatuh cinta pada Steve Smith, ketika
mereka bertemu 16 tahun lalu dalam pertukaran pelajar di Inggris.
Setahun kemudian, mereka berpisah ketika program itu berakhir. Carmen
kembali ke Spanyol, lalu pindah ke Prancis. Beberapa tahun kemudian
Steve mengirim surat cinta untuk Carmen, ke alamat ibunya di Spanyol.
Sayang, surat itu terselip di belakang perapian lebih dari satu
dekade, dan baru ditemukan ketika rumah itu direnovasi. Akhirnya,
walau belasan tahun telah berlalu, cinta mereka bertaut kembali.
Mereka pun menikah pada Juli 2009.
Kerap kali cinta suami istri tampak menggebu di awal, tetapi luntur
seiring berlalunya waktu. Bisa karena cinta hanya untuk memuaskan
nafsu, mengangkat gengsi, mengisi hati yang sepi. Atau, cinta dianggap
barang; menarik dan enak dipakai ketika baru. Lalu bisa dibuang jika
sudah bosan, untuk diganti yang baru. Atau, ketika kelemahan pasangan
tampak, lunturlah cinta. Padahal kelemahan dan kekurangan seharusnya
menyatukan pasangan, karena timbul kebutuhan untuk saling menopang.
Salomo yang diyakini menuliskan Kidung Agung, mengungkap makna cinta
sejati. Di masa jayanya, ia kerap menerima upeti dari negara tetangga,
berupa gundik. Namun, cintanya terhadap sang istri-gadis Mesir yang
hitam manis, tetap bertahan. Cintanya kuat bagai maut. Semakin lama
semakin lekat. Bagaimana cinta kita terhadap pasangan? Adakah cinta
itu semakin kuat, khususnya saat badai menerpa? Atau, cinta itu mulai
goyah karena terkikis oleh kesibukan, kekecewaan, dan tumpukan masalah
kecil? Ambillah waktu untuk hadir bagi satu sama lain; tak hanya raga,
tetapi juga jiwa dan roh. Cabutlah duri yang merusak cinta, agar cinta
itu terus hidup _SST
PERNIKAHAN YANG BAIK TIDAK TERJADI SECARA ALAMIAH
ITU ADALAH HASIL KERJA KERAS PASANGAN MENIKAH
Dikutip dari : www.sabda.org
lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih
seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti
nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8:6)
Carmen Ruiz Perez dari Spanyol, jatuh cinta pada Steve Smith, ketika
mereka bertemu 16 tahun lalu dalam pertukaran pelajar di Inggris.
Setahun kemudian, mereka berpisah ketika program itu berakhir. Carmen
kembali ke Spanyol, lalu pindah ke Prancis. Beberapa tahun kemudian
Steve mengirim surat cinta untuk Carmen, ke alamat ibunya di Spanyol.
Sayang, surat itu terselip di belakang perapian lebih dari satu
dekade, dan baru ditemukan ketika rumah itu direnovasi. Akhirnya,
walau belasan tahun telah berlalu, cinta mereka bertaut kembali.
Mereka pun menikah pada Juli 2009.
Kerap kali cinta suami istri tampak menggebu di awal, tetapi luntur
seiring berlalunya waktu. Bisa karena cinta hanya untuk memuaskan
nafsu, mengangkat gengsi, mengisi hati yang sepi. Atau, cinta dianggap
barang; menarik dan enak dipakai ketika baru. Lalu bisa dibuang jika
sudah bosan, untuk diganti yang baru. Atau, ketika kelemahan pasangan
tampak, lunturlah cinta. Padahal kelemahan dan kekurangan seharusnya
menyatukan pasangan, karena timbul kebutuhan untuk saling menopang.
Salomo yang diyakini menuliskan Kidung Agung, mengungkap makna cinta
sejati. Di masa jayanya, ia kerap menerima upeti dari negara tetangga,
berupa gundik. Namun, cintanya terhadap sang istri-gadis Mesir yang
hitam manis, tetap bertahan. Cintanya kuat bagai maut. Semakin lama
semakin lekat. Bagaimana cinta kita terhadap pasangan? Adakah cinta
itu semakin kuat, khususnya saat badai menerpa? Atau, cinta itu mulai
goyah karena terkikis oleh kesibukan, kekecewaan, dan tumpukan masalah
kecil? Ambillah waktu untuk hadir bagi satu sama lain; tak hanya raga,
tetapi juga jiwa dan roh. Cabutlah duri yang merusak cinta, agar cinta
itu terus hidup _SST
PERNIKAHAN YANG BAIK TIDAK TERJADI SECARA ALAMIAH
ITU ADALAH HASIL KERJA KERAS PASANGAN MENIKAH
Dikutip dari : www.sabda.org
JIKA AYAH SIBUK
Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegur dia dengan
ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?" (1 Raja-raja 1:6)
Dalam adegan awal film Ip Man, Tuan Ip duduk-duduk di teras depan
bersama istri, anak, dan tiga orang tamu. Anaknya asyik menggambar.
Seorang tamu ingin menunjukkan jurus kung fu yang baru saja
dipelajarinya, dan meminta Tuan Ip meladeninya berlatih. Sementara
keduanya asyik menjajal kemampuan, anak Tuan Ip selesai menggambar dan
berlari mendekat untuk menunjukkan hasilnya pada ayahnya. Namun, sang
ayah menepiskannya, "Sebentar, Ayah sedang sibuk." Anak itu pun patah
semangat dan selama beberapa hari tidak mau menyapa ayahnya.
Orangtua kerap kali lalai memperhatikan anaknya karena sibuk dengan
pelayanan, pekerjaan, atau hobi. Kehadiran anak kadang-kadang bahkan
dirasa sebagai gangguan di tengah kesibukan lain yang dianggap lebih
penting. Daud menjadi salah satu contoh tragis dalam kasus ini. Ia
adalah raja Israel yang hebat dan orang yang sangat mengasihi Allah,
tetapi bermasalah dalam kehidupan rumah tangganya, termasuk dalam
mendidik anak-anaknya. Salah seorang anaknya, Adonia, dibiarkan
berbuat sesuka hatinya, tidak pernah ditegur atau dinasihati. Ketika
besar, Adonia membangkang pada ayahnya dengan mengangkat dirinya
sebagai raja.
Untuk mendidik dan membentuk karakter anak, diperlukan proses
pendisiplinan selama bertahun-tahun. Kita perlu meluangkan waktu dan
perhatian secara khusus, berkelanjutan, konsisten, dan penuh
kesabaran. Jangan biarkan pelayanan, pekerjaan, atau hobi menguras
waktu dan energi sampai-sampai kita tidak sempat lagi memenuhi peran
dan tanggung jawab kita sebagai orangtua _ARS
ORANG TUA YANG "TIDAK sempat" MEMPERHATIKAN ANAK
PERLU MENATA ULANG PRIORITAS HIDUPNYA
Dikutip dari : www.sabda.org
ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?" (1 Raja-raja 1:6)
Dalam adegan awal film Ip Man, Tuan Ip duduk-duduk di teras depan
bersama istri, anak, dan tiga orang tamu. Anaknya asyik menggambar.
Seorang tamu ingin menunjukkan jurus kung fu yang baru saja
dipelajarinya, dan meminta Tuan Ip meladeninya berlatih. Sementara
keduanya asyik menjajal kemampuan, anak Tuan Ip selesai menggambar dan
berlari mendekat untuk menunjukkan hasilnya pada ayahnya. Namun, sang
ayah menepiskannya, "Sebentar, Ayah sedang sibuk." Anak itu pun patah
semangat dan selama beberapa hari tidak mau menyapa ayahnya.
Orangtua kerap kali lalai memperhatikan anaknya karena sibuk dengan
pelayanan, pekerjaan, atau hobi. Kehadiran anak kadang-kadang bahkan
dirasa sebagai gangguan di tengah kesibukan lain yang dianggap lebih
penting. Daud menjadi salah satu contoh tragis dalam kasus ini. Ia
adalah raja Israel yang hebat dan orang yang sangat mengasihi Allah,
tetapi bermasalah dalam kehidupan rumah tangganya, termasuk dalam
mendidik anak-anaknya. Salah seorang anaknya, Adonia, dibiarkan
berbuat sesuka hatinya, tidak pernah ditegur atau dinasihati. Ketika
besar, Adonia membangkang pada ayahnya dengan mengangkat dirinya
sebagai raja.
Untuk mendidik dan membentuk karakter anak, diperlukan proses
pendisiplinan selama bertahun-tahun. Kita perlu meluangkan waktu dan
perhatian secara khusus, berkelanjutan, konsisten, dan penuh
kesabaran. Jangan biarkan pelayanan, pekerjaan, atau hobi menguras
waktu dan energi sampai-sampai kita tidak sempat lagi memenuhi peran
dan tanggung jawab kita sebagai orangtua _ARS
ORANG TUA YANG "TIDAK sempat" MEMPERHATIKAN ANAK
PERLU MENATA ULANG PRIORITAS HIDUPNYA
Dikutip dari : www.sabda.org
PENGHANCURAN CITRA ALLAH
Jangan membunuh (Keluaran 20:13)
Pada era Hitler, prajurit Nazi mendatangi sebuah rumah sakit di
Jerman yang dikepalai seorang dokter Lutheran. Mereka bermaksud
menghabisi pasien-pasien yang tak berdaya, agar prajurit-prajurit
yang terluka dapat dirawat. Menurut prajurit Nazi tadi, pasien-pasien
itu sudah tidak memiliki harapan untuk disembuhkan, sehingga mestinya
digantikan oleh orang-orang yang masih dapat ditolong. Sang dokter
menahan mereka di pintu gerbang rumah sakit. Ia bersikeras menolak,
"Orang-orang ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah."
Menurut Alkitab, manusia diciptakan secara berbeda dari alam dan
ciptaan lainnya. Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keserupaan manusia
dengan Allah ini mencakup kerohanian, moralitas, martabat,
kecerdasan, dan kreativitas. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam
dosa, citra Allah tetap ada padanya. Itulah sebabnya Allah secara
tegas melarang manusia membunuh sesamanya karena pembunuhan berarti
penghancuran citra Allah tersebut.
Bukan hanya dengan senjata, kita juga dapat "membunuh" seseorang
dengan perkataan dan perlakuan. Pengertian akan citra Allah dapat
menolong kita mengelakkan godaan itu. Ketika berinteraksi dengan
sesama, kita berinteraksi dengan orang yang diciptakan oleh Allah.
Seburuk apa pun orang itu, Allah juga menawarkan kehidupan kekal
kepadanya. Allah mau kita mengenali dan menghormati citra-Nya di
dalam diri setiap orang. Dengan begitu, kita mengambil bagian dalam
pelayanan yang membawa kehidupan, bukan kematian -ARS
SIKAP KITA TERHADAP SESAMA DAN DIRI SENDIRI
MENCERMINKAN SIKAP KITA TERHADAP ALLAH
Dikutip dari : www.sabda.org
Pada era Hitler, prajurit Nazi mendatangi sebuah rumah sakit di
Jerman yang dikepalai seorang dokter Lutheran. Mereka bermaksud
menghabisi pasien-pasien yang tak berdaya, agar prajurit-prajurit
yang terluka dapat dirawat. Menurut prajurit Nazi tadi, pasien-pasien
itu sudah tidak memiliki harapan untuk disembuhkan, sehingga mestinya
digantikan oleh orang-orang yang masih dapat ditolong. Sang dokter
menahan mereka di pintu gerbang rumah sakit. Ia bersikeras menolak,
"Orang-orang ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah."
Menurut Alkitab, manusia diciptakan secara berbeda dari alam dan
ciptaan lainnya. Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keserupaan manusia
dengan Allah ini mencakup kerohanian, moralitas, martabat,
kecerdasan, dan kreativitas. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam
dosa, citra Allah tetap ada padanya. Itulah sebabnya Allah secara
tegas melarang manusia membunuh sesamanya karena pembunuhan berarti
penghancuran citra Allah tersebut.
Bukan hanya dengan senjata, kita juga dapat "membunuh" seseorang
dengan perkataan dan perlakuan. Pengertian akan citra Allah dapat
menolong kita mengelakkan godaan itu. Ketika berinteraksi dengan
sesama, kita berinteraksi dengan orang yang diciptakan oleh Allah.
Seburuk apa pun orang itu, Allah juga menawarkan kehidupan kekal
kepadanya. Allah mau kita mengenali dan menghormati citra-Nya di
dalam diri setiap orang. Dengan begitu, kita mengambil bagian dalam
pelayanan yang membawa kehidupan, bukan kematian -ARS
SIKAP KITA TERHADAP SESAMA DAN DIRI SENDIRI
MENCERMINKAN SIKAP KITA TERHADAP ALLAH
Dikutip dari : www.sabda.org
Minggu, 04 Oktober 2009
MANUSIA SEPERTI RUMPUT
Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya
seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi
layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya
(Yesaya 40:6,7)
Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah
spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, "Ada
keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa
makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal
pasti mahal, ya biayanya?" Saat itu saya hanya tersenyum
mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar,
diam-diam saya terus memikirkannya.
Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang
sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program
pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai
"penampilan penunjang" lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke,
orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput
dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang
Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang
mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana
ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan,
justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin
relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.
Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun,
jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita
memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya
diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih
menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi
berarti -HA
SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA
WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL
Dikutip dari : www.sabda.org
seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi
layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya
(Yesaya 40:6,7)
Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah
spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, "Ada
keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa
makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal
pasti mahal, ya biayanya?" Saat itu saya hanya tersenyum
mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar,
diam-diam saya terus memikirkannya.
Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang
sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program
pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai
"penampilan penunjang" lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke,
orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput
dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang
Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang
mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana
ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan,
justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin
relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.
Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun,
jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita
memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya
diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih
menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi
berarti -HA
SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA
WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL
Dikutip dari : www.sabda.org
Langganan:
Postingan (Atom)


