Coba renungkan penyampaian ini sebelum Anda mulai mengeluhkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup Anda…
01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.
02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan pasangan hidup.
06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !
a. Life is a gift
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. And fulfill it.
13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,
16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!
Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan…
Senin, 09 November 2009
KELEMAHAN YANG MENGUATKAN
Tetapi jawab Tuhan kepadaku, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus
12:9)
Suatu saat, seorang pendeta naik kapal dari Pontianak, hendak menuju
ke Semarang. Di tengah laut lepas, seorang penumpang yang diduga
stres melompat ke laut. Semua penumpang menjadi gaduh. Awak kapal
pun segera mematikan mesin, tetapi mereka tidak segera menolong.
Baru setelah orang tersebut tampak lemas tak bertenaga, para awak
menurunkan sekoci, berenang menjangkau si korban, dan mengangkatnya
ke sekoci. Mengapa orang tersebut dibiarkan lemas? Awak kapal
menjawab, "Orang yang sudah lemas pasti lebih mudah ditolong. Kalau
seseorang masih bertenaga, maka ia cenderung memberontak dan sulit
diangkat."
Paulus adalah orang hebat. Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita
membaca bahwa ia menyembuhkan orang lumpuh (14:8-10). Sapu tangannya
bisa mendatangkan mukjizat (19:12). Ia menghidupkan orang mati
(20:9,10). Ia banyak membuat mukjizat (28:9). Akan tetapi, ia
diizinkan berada dalam kondisi tidak berdaya. Ia tidak bisa menolong
dirinya sendiri. Tiga kali sudah ia berseru, tetapi Tuhan juga tidak
melepaskannya (2 Korintus 12:8).
Barangkali kita juga mengalami bahwa kepandaian, pengalaman, dan
kemampuan kita, tidak membebaskan kita dari masalah. Kita telah
berkali-kali berdoa, tetapi Allah sepertinya mengizinkan kita "lemas
tidak berdaya". Mengapa? Firman-Nya: "... justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna." Itulah yang akhirnya membuat Paulus
berani berkata: "Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas
kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Korintus
12:9) _THE
KALA KITA BENAR-BENAR SUDAH ANGKAT TANGAN
TUHAN PASTI AKAN SEGERA TURUN TANGAN
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus
12:9)
Suatu saat, seorang pendeta naik kapal dari Pontianak, hendak menuju
ke Semarang. Di tengah laut lepas, seorang penumpang yang diduga
stres melompat ke laut. Semua penumpang menjadi gaduh. Awak kapal
pun segera mematikan mesin, tetapi mereka tidak segera menolong.
Baru setelah orang tersebut tampak lemas tak bertenaga, para awak
menurunkan sekoci, berenang menjangkau si korban, dan mengangkatnya
ke sekoci. Mengapa orang tersebut dibiarkan lemas? Awak kapal
menjawab, "Orang yang sudah lemas pasti lebih mudah ditolong. Kalau
seseorang masih bertenaga, maka ia cenderung memberontak dan sulit
diangkat."
Paulus adalah orang hebat. Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita
membaca bahwa ia menyembuhkan orang lumpuh (14:8-10). Sapu tangannya
bisa mendatangkan mukjizat (19:12). Ia menghidupkan orang mati
(20:9,10). Ia banyak membuat mukjizat (28:9). Akan tetapi, ia
diizinkan berada dalam kondisi tidak berdaya. Ia tidak bisa menolong
dirinya sendiri. Tiga kali sudah ia berseru, tetapi Tuhan juga tidak
melepaskannya (2 Korintus 12:8).
Barangkali kita juga mengalami bahwa kepandaian, pengalaman, dan
kemampuan kita, tidak membebaskan kita dari masalah. Kita telah
berkali-kali berdoa, tetapi Allah sepertinya mengizinkan kita "lemas
tidak berdaya". Mengapa? Firman-Nya: "... justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna." Itulah yang akhirnya membuat Paulus
berani berkata: "Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas
kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Korintus
12:9) _THE
KALA KITA BENAR-BENAR SUDAH ANGKAT TANGAN
TUHAN PASTI AKAN SEGERA TURUN TANGAN
TIPP-EX
... supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut
keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. (1 Petrus 4:2)
Dalam dunia tulis menulis, tipp-ex bukanlah benda yang asing.
Tipp-ex membuat si penulis dapat mengoreksi kesalahan dalam
tulisannya. Dan, rasa hati jadi lebih tenang jika kita dapat
mengoreksi kesalahan yang telah terjadi. Sayangnya, kehidupan kita
tidak dilengkapi dengan "tipp-ex"!
Sebuah ungkapan mengatakan "penyesalan selalu datang terlambat". Ya,
biasanya kesadaran itu muncul saat sudah "kena batunya". Orang yang
menyesal kerap ingin memutar ulang kehidupan untuk mengoreksi
kesalahannya, atau menghapus "noda hitam" itu dari lembaran
hidupnya. Namun, hidup terus berjalan maju. Satu arah.
Jika demikian, adakah cara supaya kita tidak salah langkah? Firman
Tuhan mengingatkan pada sikap yang harus diambil dalam hidup:
pergunakan waktu yang ada sesuai kehendak Allah, jangan kehendak
diri sendiri! Dan, kehendak Allah itu dapat kita ketahui dari
firman-Nya. Inilah langkah yang benar dan bijaksana. Firman Allah
selalu menjadi pedoman dan standar kita untuk menjalankan hidup yang
berkenan kepada-Nya. Mungkin kehendak Allah terasa berat bagi kita;
bahkan tak jarang kita harus mengorbankan keinginan diri sendiri,
tetapi setialah.
Tugas apa yang Tuhan percayakan untuk Anda kerjakan hari ini?
Persoalan apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Sediakan waktu lebih
untuk menguji apakah langkah yang akan kita ambil merupakan
kehendak-Nya. Dan sesuai dengan cara yang diajarkan dalam firman-
Nya. Hidup yang merupakan anugerah Tuhan ini terlalu berharga untuk
diisi dengan segala macam pementingan diri sendiri _HA
SETIAP DETIK DALAM HIDUP INI TAK AKAN PERNAH TERULANG
LAKUKANLAH KEHENDAK ALLAH, AGAR KITA TAK MENYESAL KELAK
keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. (1 Petrus 4:2)
Dalam dunia tulis menulis, tipp-ex bukanlah benda yang asing.
Tipp-ex membuat si penulis dapat mengoreksi kesalahan dalam
tulisannya. Dan, rasa hati jadi lebih tenang jika kita dapat
mengoreksi kesalahan yang telah terjadi. Sayangnya, kehidupan kita
tidak dilengkapi dengan "tipp-ex"!
Sebuah ungkapan mengatakan "penyesalan selalu datang terlambat". Ya,
biasanya kesadaran itu muncul saat sudah "kena batunya". Orang yang
menyesal kerap ingin memutar ulang kehidupan untuk mengoreksi
kesalahannya, atau menghapus "noda hitam" itu dari lembaran
hidupnya. Namun, hidup terus berjalan maju. Satu arah.
Jika demikian, adakah cara supaya kita tidak salah langkah? Firman
Tuhan mengingatkan pada sikap yang harus diambil dalam hidup:
pergunakan waktu yang ada sesuai kehendak Allah, jangan kehendak
diri sendiri! Dan, kehendak Allah itu dapat kita ketahui dari
firman-Nya. Inilah langkah yang benar dan bijaksana. Firman Allah
selalu menjadi pedoman dan standar kita untuk menjalankan hidup yang
berkenan kepada-Nya. Mungkin kehendak Allah terasa berat bagi kita;
bahkan tak jarang kita harus mengorbankan keinginan diri sendiri,
tetapi setialah.
Tugas apa yang Tuhan percayakan untuk Anda kerjakan hari ini?
Persoalan apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Sediakan waktu lebih
untuk menguji apakah langkah yang akan kita ambil merupakan
kehendak-Nya. Dan sesuai dengan cara yang diajarkan dalam firman-
Nya. Hidup yang merupakan anugerah Tuhan ini terlalu berharga untuk
diisi dengan segala macam pementingan diri sendiri _HA
SETIAP DETIK DALAM HIDUP INI TAK AKAN PERNAH TERULANG
LAKUKANLAH KEHENDAK ALLAH, AGAR KITA TAK MENYESAL KELAK
SAYA JUGA MUNAFIK
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka
engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu
itu dari mata saudaramu. (Matius 7:5)
Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang
pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai seorang mahasiswa,
mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi
kemunafikan orang-orang kristiani. Ia merasa memperoleh ilham yang
jitu, dan menjawab, "Satu-satunya orang munafik yang perlu saya
cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri." Kathleen
mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan
memilih untuk berintrospeksi diri.
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung gampang melemparkan
kesalahan kepada pihak lain. Ia cepat melihat dan menghakimi
pelanggaran orang lain, tetapi lamur terhadap pelanggarannya
sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk
menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu.
Tuhan Yesus menghardik sikap munafik semacam itu. Dia tidak
mengajari kita untuk menutup mata terhadap pelanggaran, tetapi
mengarahkan kita untuk memulai pemeriksaan dari tempat yang benar:
dari diri kita sendiri. Kita masing-masing memiliki "balok'",
kecenderungan untuk melakukan dosa dan pelanggaran. Kita perlu
terlebih dahulu merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan untuk
mengeluarkan balok tersebut. Pandangan kita pun akan menjadi jernih,
sehingga nantinya kita bisa menuntun saudara yang lain untuk
mengeluarkan serpihan kayu dari matanya.
Hadapilah, oleh anugerah Tuhan dan ketaatan pada firman-Nya, dosa
yang mencobai Anda. Kemenangan atas dosa itu akan memampukan Anda
untuk menolong orang lain mengatasi dosa yang serupa _ARS
JANGAN MENGHAKIMI DOSA ORANG LAIN KALAU ANDA
TIDAK BERSEDIA MENOLONG ORANG ITU MENGATASI DOSANYA
Dikutip dari : www.sabda.org
engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu
itu dari mata saudaramu. (Matius 7:5)
Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang
pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai seorang mahasiswa,
mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi
kemunafikan orang-orang kristiani. Ia merasa memperoleh ilham yang
jitu, dan menjawab, "Satu-satunya orang munafik yang perlu saya
cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri." Kathleen
mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan
memilih untuk berintrospeksi diri.
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung gampang melemparkan
kesalahan kepada pihak lain. Ia cepat melihat dan menghakimi
pelanggaran orang lain, tetapi lamur terhadap pelanggarannya
sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk
menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu.
Tuhan Yesus menghardik sikap munafik semacam itu. Dia tidak
mengajari kita untuk menutup mata terhadap pelanggaran, tetapi
mengarahkan kita untuk memulai pemeriksaan dari tempat yang benar:
dari diri kita sendiri. Kita masing-masing memiliki "balok'",
kecenderungan untuk melakukan dosa dan pelanggaran. Kita perlu
terlebih dahulu merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan untuk
mengeluarkan balok tersebut. Pandangan kita pun akan menjadi jernih,
sehingga nantinya kita bisa menuntun saudara yang lain untuk
mengeluarkan serpihan kayu dari matanya.
Hadapilah, oleh anugerah Tuhan dan ketaatan pada firman-Nya, dosa
yang mencobai Anda. Kemenangan atas dosa itu akan memampukan Anda
untuk menolong orang lain mengatasi dosa yang serupa _ARS
JANGAN MENGHAKIMI DOSA ORANG LAIN KALAU ANDA
TIDAK BERSEDIA MENOLONG ORANG ITU MENGATASI DOSANYA
Dikutip dari : www.sabda.org
Jumat, 16 Oktober 2009
menyanyilah untuk Tuhan
Bagi kita yang terlibat dalam pelayanan musik atau pujian
penyembahan, marilah bersungguh-sungguh melayani Tuhan melalui
talenta yang Tuhan berikan. Sadarilah bahwa kita dapat menggunakan
musik rohani untuk menyampaikan kesaksian tentang Tuhan kepada orang
lain. Jika Iblis bisa memakai musik untuk merusak generasi muda,
kita harus melawannya dengan memakai musik yang menjangkau generasi
muda. Banyak orang bertobat dan percaya kepada Yesus setelah
mendengarkan lagu-lagu rohani. Jadi, menyanyilah untuk Tuhan . .
penyembahan, marilah bersungguh-sungguh melayani Tuhan melalui
talenta yang Tuhan berikan. Sadarilah bahwa kita dapat menggunakan
musik rohani untuk menyampaikan kesaksian tentang Tuhan kepada orang
lain. Jika Iblis bisa memakai musik untuk merusak generasi muda,
kita harus melawannya dengan memakai musik yang menjangkau generasi
muda. Banyak orang bertobat dan percaya kepada Yesus setelah
mendengarkan lagu-lagu rohani. Jadi, menyanyilah untuk Tuhan . .
ANAK HILANG
Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
Senin, 05 Oktober 2009
KELELAHAN
Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi
sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini;
sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu (Keluaran 18:17-18)
Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk
minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya
memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat
itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh
Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda
bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah
istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat
kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara
seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani
ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat.
Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti
menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro
mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya
kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian
bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi
tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap
orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk
beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah
merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi
melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi
cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta
bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri! _JTI
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini;
sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu (Keluaran 18:17-18)
Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk
minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya
memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat
itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh
Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda
bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah
istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat
kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara
seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani
ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat.
Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti
menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro
mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya
kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian
bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi
tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap
orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk
beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah
merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi
melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi
cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta
bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri! _JTI
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
Langganan:
Postingan (Atom)


