Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)
Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."
Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.
Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.
Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA
MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
Jumat, 16 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar