sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang
mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1Yohanes 4:7).
Pada 24 November 1974, John Stott, seorang pendeta senior dari
Inggris, yang oleh Majalah Times dimasukkan ke dalam daftar 100 tokoh
berpengaruh di dunia, mengakhiri khotbahnya dengan bercerita tentang
gereja yang diimpikannya. Salah satunya adalah: gereja yang
memelihara, yang anggotanya beragam latar belakang, memiliki
persekutuan yang hangat dan terhindar dari pementingan diri sendiri,
yang anggotanya saling mengasihi dengan tulus, dan juga yang mau
membantu orang lain.
Sebuah mimpi yang indah dan penting. Sebab itulah salah satu tugas
gereja, yaitu menjadi "wadah" para warganya untuk bertumbuh dalam
iman, dan berbuah dalam sikap hidup sehari-hari, sehingga dunia dapat
merasakan nilai kehadirannya. Masalahnya, kita kerap menganggap itu
hanyalah tugas gereja sebagai institusi, dan bukan tugas kita secara
pribadi. Padahal gereja adalah orang-orangnya. Kita. Anda dan saya.
Orang-orang yang dipanggil dari kegelapan dan diselamatkan oleh
Kristus.
gereja, yaitu menjadi "wadah" para warganya untuk bertumbuh dalam
iman, dan berbuah dalam sikap hidup sehari-hari, sehingga dunia dapat
merasakan nilai kehadirannya. Masalahnya, kita kerap menganggap itu
hanyalah tugas gereja sebagai institusi, dan bukan tugas kita secara
pribadi. Padahal gereja adalah orang-orangnya. Kita. Anda dan saya.
Orang-orang yang dipanggil dari kegelapan dan diselamatkan oleh
Kristus.
Biarlah orang lain "melihat" Allah melalui gerejanya. Melalui kita.
Caranya, dengan memiliki sikap hidup saling mengasihi (ayat 7). Tidak
masalah jika kita hidup dalam keragaman dan perbedaan-suku, bahasa,
budaya, talenta, status sosial-kita tetap bisa terekat dalam
kebersamaan; kehangatan persekutuan dan ketulusan untuk saling
peduli. Tidak menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain.
Sebaliknya selalu merasa tidak sempurna tanpa orang lain. Ya, adalah
tugas kita untuk membuat orang lain dapat melihat dan merasakan kasih
Allah; melalui sikap dan tutur kata kita -AYA
Caranya, dengan memiliki sikap hidup saling mengasihi (ayat 7). Tidak
masalah jika kita hidup dalam keragaman dan perbedaan-suku, bahasa,
budaya, talenta, status sosial-kita tetap bisa terekat dalam
kebersamaan; kehangatan persekutuan dan ketulusan untuk saling
peduli. Tidak menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain.
Sebaliknya selalu merasa tidak sempurna tanpa orang lain. Ya, adalah
tugas kita untuk membuat orang lain dapat melihat dan merasakan kasih
Allah; melalui sikap dan tutur kata kita -AYA
MENGATAKAN APA YANG KITA LAKUKAN, MEMANG PENTING
NAMUN MELAKUKAN APA YANG KITA KATAKAN, ITU LEBIH PENTING
Dikutip dari : www.sabda.org



Tidak ada komentar:
Posting Komentar