Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya
seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi
layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya
(Yesaya 40:6,7)
Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah
spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, "Ada
keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa
makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal
pasti mahal, ya biayanya?" Saat itu saya hanya tersenyum
mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar,
diam-diam saya terus memikirkannya.
Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang
sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program
pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai
"penampilan penunjang" lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke,
orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput
dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang
Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang
mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana
ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan,
justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin
relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.
Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun,
jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita
memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya
diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih
menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi
berarti -HA
SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA
WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL
Dikutip dari : www.sabda.org
Minggu, 04 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar